Need Jamaah

Yuk Hijrah, setelahnya istiqomah, rapatkan barisan dalam jamaah.
Kenapa harus berjamaah?
Agar kita tak merasa sudah paling sholehah.
Really?
Ya.
Sebab dalam jamaah, kan kita temui pribadi-pribadi yang lebih.

Lebih sholehah. Lebih cakap. Lebih berpengetahuan. Lebih amanah. Lebih bersemangat dakwah. Lebih taat. Lebih tawadhu. Lebih menjaga iffah dan izzah.

Masya Allah. Kita ini bukan apa-apa. Sungguh, kita ini bukan apa-apa. Hanya butiran debu yang insyaAllah naik derajat kala digunakan bertayamum. Apalah arti diri tanpa dakwah.
Kitalah yang butuh dakwah, butuh Allah.

Jadi, bersabarlah dalam kebersamaan, meski terkadang nampak memberatkan.
Karena jika sendiri, kau bisa ditelan ganasnya ombak lautan.
Dan jangankan lautan, jika sampanmu lapuk dan penuh lubang, danau pun dapat menenggelamkan.

Bjb-Bpp/Ahad/05 Agustus 2018

Doa yang Memaksa

Manusia berdoa, memohon petunjuk.
Allah menjawab segera, namun ia malah merajuk.
Ada apakah gerangan?
Ternyata oh ternyata, hasil tak sesuai keinginan.
Inilah manusia, merasa tahu segalanya. Padahal pandangannya, hanya sebatas mata.
Padahal ke-tahuannya, hanya sebatas yang terindera.
Sedang Allah Sang Maha, mengetahui sedalam-dalamnya lubuk hati, tersirat dan tersurat, nyata dan tersembunyi, bahkan yang kadang si empunya tak menyadari.
Inilah manusia, meminta sambil memaksa.
Tanpa sadar seolah berkata,
"aku maunya dia."
"Yang itu saja."

Inilah manusia, seringkali lupa ke-MahaTahuan Penciptanya. Ia yang tlah mengatur baik dan buruknya.
Ia lupa.
Merasa sudah benar.
Agaknya perlu sedikit ditampar, agar sadar, Allah bisa memberi dengan cara "melempar"

#istidraj
#inspiredbyannida

Esok

Tak ada yang tahu apakah besok kita masih bisa melihat mentari. Sinarnya yang menyilaukan dan hangatnya yang timbulkan peluh, terkadang membuat kita terlalu banyak mengeluh.
Tiada yang mampu menjanjikan, apakah besok kita masih melihatnya terbenam, tergantikan sang rembulan dengan cahayanya yang temaram.
Tiada yang menjamin, esok masih kita nikmati hujan. Suaranya, baunya, dingin yang timbul olehnya... Tiada yang tahu esok... Wahai hamba, selagi sempat, gunakan usiamu tuk hal bermanfaat agar di akhirat kelak kan selamat.
Memang, Dia yang Maha Membolak balikan hati. Tapi sampai kapan kau berdiam diri, menunggu hidayah datang menghampiri.
Surga itu butuh pengorbanan. Entah pikiran, waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa.. Sudah sampai mana pengorbanan kita?

Khilafah

Khilafah
Ia bagai sebuah pohon.. Memberi oksigen di tengah udara kehidupan yang kotor dan beracun
Memberi naungan bagi setiap manusia yang berlindung di bawah rindangnya
Memberikan kesejukan di bawah teriknya tuntutan kehidupan
Mencegah manusia dari longsornya keimanan
Menjaga setiap jiwa yang berteduh dan bersandar
Ia bagai sebuah pohon... Akan terus memanjang dahan dan rantingnya, serta meluas akar-akarnya
Agar semakin kokoh, semakin banyak yang terlindungi, dan semakin banyak yang terjaga

Samarinda, 30 Desember 2016

Bimbang (? )

Bukan karena,
Kau ragu lalu menjauh
Tapi karena,
Kau menjauh lalu ragu

Tak ada yang salah dengan jalan ini
Sungguh tak ada yang salah
Ini masih jalan yang sesuai dengan jalan rasulNya
Satu di antara sekian banyak yang memang tlah beliau ramalkan
Kalau ada kekeliruan, sampaikan saja tuk dibetulkan
Kalau paham-mu berbenturan, utarakan saja tuk diperbandingkan
Kalau ada yang mengganjal di hati
Sampaikan saja tuk klarifikasi

Sudah sedalam apa engkau mengkaji?
Serajin apa engkau datang halaqah?
Sebanyak apa kau mengenal saudari seperjuanganmu?
Sesering apa engkau hadiri agenda rutin bersama tuk kuatkan ukhwah?
Sejauh mana kau memahami fiqrah dan thariqah dakwah ini?
Sudah sebagaimana?
Lihat.. Lihat ke dalam dirimu.. Apakah engkau menjauh karena ragu
Atau engkau ragu karena menjauh

Tengok ke dalam dirimu
Kau ragu dengan ilmu, atau ragu dengan egomu

Kembalilah ke jalan yang pernah kau tapaki
Keraguan itu datang dari syaitan, yang tak pernah suka kau yang penuh militansi
Jalan lain tak ada bedanya ukhti
Jalan dakwah yang sebenarnya memang selalu penuh onak dan duri
Lalu apakah kau akan ragu lagi?

Samarinda, 06 Januari 2017
Teruntuk hati yang bimbang. Kita pernah berada di tempat yang sama. Yakin kau harus kembali.
Paksa dan seret hatimu sendiri.

Posthink

Prasangka buruk terhadap orang lain bisa hadir karena memposisikan diri di posisi orang tersebut. Maka bisa jadi, su'udzon adalah penilaian diri sendiri.

So, pos-think.. Berkhusnudzon-lah meski terkadang peluang seseorang tak bersalah hampir mendekati nol. Karena seandainya pun ia salah, kita telah belajar sesuatu yang berharga, yaitu menjaga bersihnya segumpal daging yang bila ia baik, maka akan baik seliruh tubuh manusia. Bila ia buruk, maka akan buruk pula seluruh tubuh manusia. Segumpal daging itu adalah HATI (iman)

Sumber gambar: google
Inspirasi: ust.Salim A Fillah & HR Bukhari Muslim

Loving U

Aku sudah punya cinta, dengan segala bentuk perhatiannya, dengan begitu banyak pengorbanan darinya.
Sehari tak cukup satu atau  dua kali ia menanyakan kabarku, apa yang sedang kulakukan, sudah makan atau belum, atau sesuatu yang lain entah penting atau tidak. Dan aku, bibir ini selalu mengulum senyum menatap layar Nokia hitam kecilku, lalu tanpa ba-bi-bu mereply. 
Terkadang ia ngambek, jika ku terlalu sibuk dan lambat membalas. Emoticon di layar lagi-lagi membuatku terkikik, tapi juga merasa bersalah. "tadi sibuk, banyak tugas". Tak butuh waktu lama tuk ia kembali cerah  dan tertawa, berolok-olok denganku. Ketulusan cintanya seolah melarutkan bibit-bibit kemarahan dan kecewa. Aku sayang padanya.
Kehadirannya bukan hal baru. Hanya saja, bodohnya aku, tak menyadari besarnya cinta itu. Ia selalu di dekatku, mempercayaiku sebagai tempat curahan hatinya, kadang meminta pendapatku, dan rahasia-rahasia kecil lain yang secara terbuka ia bagi.
Ia yang tanpa diminta amat mengerti kebutuhannku, ia yang tanpa kata memaafkannku. Pernah suatu malam aku tak dapat tidur, merasa bersalah sedikit berkata kasar padanya. Kudatangi ia dengan penyesalan terdalam. "Maaf" ujarku sembari menahan air mata yang hampir meluap-luap. Aku malu.
Aku mencintainya. Hanya padanya kubisa memeluk, merasakan dekapan hangat. Aku selalu ingin bermanja. Umi,rasa sayang ini tak mampu terbendung lagi.
maafkan jika anakmu ini pernah bersalah, pernah membuat air matamu bercucuran, membuat dadamu sesak. Maafkan.... Menganggap cintamu "biasa saja" sewajarnya seorang ibu adalah hal jahat. Engkau luar biasa, engkau istimewa, cintamu tak biasa.
Umi, aku selalu ingin kembali pulang. Tapi amanah di sini haruslah tertunaikan, dan dukunglah aku tuk menjadi seorang muslimah yang berharga, bernilai, berguna bagi agama, tuk kelak menghadiahkan bagi kalian, syurga... Samarinda, 19 Agustus 2014
Latepost
Edited

Sudut Pandang

Dari sudut pandang manakah kita menilai sesuatu. Kepalsuannya? Atau keindahannya yg tak mudah layu?
Dari banyak hal kita belajar, bahwa pikiran positif akan tumbuh dari pembiasaan. Mengabaikan perasaan2 negatif yang membuat sinar matahari seakan selalu redup.
Be positive. Selalu ada cara tuk berbaik sangka pada skenario-Nya, Sang Sutradara, dimana setiap kita adalah bintang utama.

Bela Quran

Ketika daya dan upaya telah sampai di penghujungnya,
Ketika sang penguasa bergeming dan tak acuh terhadap suara rakyatnya
Ketika si penista masih bebas melanggeng dengan angkuh dan sombongnya
Ketika air mata orang-orang shaleh berbuah doa yang menembus lapis-lapis langitNya, di-aminkan malaikat dan makhluk-makhluk lain ciptaanNya
Maka tunggulah saja, Allah sendiri yang kan tunjukkan kuasaNya, untuk penista, orang yang melindunginya, media pendukungnya, atau bahkan yang sekedar menghujat aksi para pejuangNya

4112016

Asa

Sinar matanya perlahan memudar,  menyadari satu persatu lilin-lilin harapannya tlah padam.
Mudah baginya tuk nyalakan kembali.  Tapi apalah guna jika tak berarti lagi.

Maba

Ingat masa jadi maba beberapa tahun lalu.  Saat itu semangat masih berasa di puncak tertinggi.  Bahagia bisa masuk prodi yang dipilih tanpa merasa nyasar.  Bahagia bakal dapat pengalaman baru.  Bahagia bakal bertualang dalam dunia yang berbeda.  Bahagia...
Sekarang semangat sering naik turun.  Kadang mikir,  enak kalau kuliah itu cuma masuk trus langsung wisuda.  Tapi mikir lagi,  wisuda bakal terasa hambar tanpa asin pahit manis perjuangan selama kuliah.  Yah,  itulah hidup.  Manis di akhir hanya akan terasa bagi mereka yang berdarah-darah dalam perjuangan (so dramatis y? )
Intinya tetap semangat.  Kamu perlu mengakhiri apa yang kanu mulai.  Semangat turun itu biasa,  asal jangan sampai mematahkan langkah.
Keep Spirit mengejar toga ^^ yeay

Kita


Seperti batu yang saling merekat dengan campuran semen,  pasir,  air.  Seperti itulah kita,  bersatu karena ragam rasa.  Sedih,  senang,  tangis,  dan tawa. Semakin sering terinjak,  semoga ia tak terkikis,  tapi bertambah padat.  Seiring banyaknya masalah,  kita ditempa tuk lebih dewasa,  bukan lari seperti bocah kecil dan hanya bisa menangis.

Dream

Mimpi... adalah kunci.. untuk kita.. menaklukkan dunia #laskarpelangimodeon
Ada begitu banyak mimpi. Satu persatu ia mulai terwujud seiring usaha sang pemimpi. Mimpi,bagi sang pemimpi tentu istimewa. Tapi bisa saja bagi orang lain bukan apa2. Mimpi jadi penulis,satu cerpen dmuat saja sudah loncat-loncat kegirangan. Tapi bagi penulis-penulis ternama,itu belum apa-apa.
Mimpi jadi orang kaya. Punya uang jutaan sudah kegirangan. Tapi bagi para miliarder,itu bukan apa-apa.
Gak masalah. Apapun kata orang,nikmati kebahagiaan kita sendiri tanpa harus merasa terbebani dan rendah diri. Selama mimpi-mimpi itu dan cara mewujudkannya sesuai aturan sang Pencipta,maka terus usahakan. Karena dengan "mimpi" lah hidup gak cuma sekedar mimpi.

 sumber gambar: google