Jantungku berdebar. Sudah pukul sepuluh lewat seperempat tapi belum
ada tanda-tanada pengumuman akan dimulai. Ya, hari ini, 26 Mei 2012
adalah hari yang kutunggu. Tidak hanya aku. Teman-teman, bahkan
seluruh pelajar seindonesia juga telah menantinya. Berbagai pikiran
berkecamuk. Apakah aku akan menjadi bagian dari yang sukses, ataukah
menjadi bagian dari mereka yang keberhasilannya tertunda.
Sering kulihat berita di mana seorang yang begitu berprestasi dan
sangat cerdas taernyata harus rela menelan pil pahit kelulusan.
Kuingin tak menjadi bagian dari sejarah itu. Kau tahu? Sejak dua tahun
lalu kupersiapkan diri ini mengikuti ujian. Penilaian hasil belajar
siswa selama tiga tahun. Sistem yang sebenarnya tak kusetujui. Jika
nanti aku menjadi seorang menteri pendidikan, akan kuperjuangkan
mengubah sistem ini.
Meskipun pengambilan nilai 40 % dari nilai raport dilakukan, tetap
saja aku kurang sreg. Bayangkan saja. Soalnya pilihan ganda. Hanya itu
sebenarnya ketidaksetujuanku. Mereka yang selama ini tidak belajar
sering mendapat nilai bagus hanya bermodal tebak-tebak jawaban. Rugi
bagi mereka yang belajar mati-matian jika harus disamakan.
Lalu, kuyakin kalian sering melihatnya ditelevisi, mereka para guru
melakukan kecurangan. demi membantu siswa atau pun menjaga nama baik
sekolah. Sebenarnya aku sedikit maklum. Sedikit saja. Hanya sedikit.
Kupikir mereka tak sepenuhnya dapat disalahkan. Seperti yang kubilang
tadi, sistem ujian seperti inilah yang membuat mereka begitu.
Selama ini, tiga tahun mereka mendidik siswa dengan peluh. Tapi
mengapa bukan mereka yang berhak menilai hasilnya. Tak adil rasanya.
Merekalah para guru yang mengetahui betul siapa siswa yang
sungguh-sungguh belajar. Mereka yang melihat potensi siswa. Mereka
yang melihat seluruh bakat dan minat kita. Mereka juga yang paham
betul akan siswa-siswa yang sekedar masuk sekolah untuk bermain.
Sekedar mencari ijazah.
Entah ujian atau cobaan bila kesungguhan belajar dan persiapan harus
ditukar dengan kata "tidak lulus". Sebuah mesin yang sama sekali tidak
punya otak, menilai kompetensi siswa dengan lima-puluh jawaban bulat
hitam. Tak tahu mana jawaban hasil mencontek dan mana jawaban murni.
Sering kupikir mengapa tidak guru saja yang menilai kami. Dan kali ini
aku menghadapi satu ujian lagi. Dalam doa kuharapkan semua tidak
mengecewakan. Pun demikian tak lupa diri ini berharap ada semacam
kesabaran luar biasa jika hasilnya jauh dari harapan.
"Ayo ke kelas. Mungkin sebentar lagi diumumkan," kugandeng tangannya
menuju kelas. Hari ini terakhir aku duduk di sini. Tempat yang begitu
menyenangkan. Belajar is my life. Ya, aku gila belajar.
Belum seluruh siswa berkumpul. Mereka bilang hasilnya akan diumumkan
setelah semua siswa lengkap.
Lima belas menit sudah. Aku tertunduk. Menggenggam erat tangannya.
Lebih dari satu bulan yang lalu kami ujian bersama. Meski hanya
menumpang, beruntunglah tak begitu sulit untukku beradaptasi dengan
lingkungan baru. Kami, katanya, tiga belas orang belumlah cukup untuk
mengadakan ujian sendiri. Terakreditasi B baru-baru ini ternyata tak
meluluskan harapan kami ujian di kelas. Menumpang, begitu kata mereka.
Jauh di dalam hati ini tergantung sebuah perasaan iri pada mereka di
sekolah lain. Memang ini pilihanku. Bersekolah di kampung. Fasilitas
seadanya. Sebenarnya kata mereka aku mudah saja masuk ke
sekolah-sekolah favorit dengan nilaiku bagus. Sekali lagi, entah
mengapa aku memilih disini. Iri. Iri. Mereka diperhatikan. Oleh dinas
dan banyak perusahaan di kotaku. Penyebabnya hanya satu. Ya, mereka di
sekolah negeri. Ini pula yang membuatku suatu saat ingin menguibah
bnegeri ini lebih adil lagi. Kami di sini juga ingin diperhatikan.
Sekoalh swasta kami bukan berarti tak butuh perhatian. Kami bahkan
butuh lebih. Dana serba kurang. Guru-guru pun sudah enam bulan tak
digaji.
Huh. Haruskah seperti ini?
"Ntar lagi pengumunan."
"Udah kumpul semua?"
"Udah."
Semua guru masuk. Duduk berjejer di depanku. Kutatap wajah mereka satu
persatu. Cemas. Mereka cemas? Sandiwara ataukah nyata? Kini aku juga
lebih cemas. Lulus sendiri bukanlah membanggakan. Kami, kami semua
harus lulus.
Satu persatu sambutan dari guru. Sampai akhirnya tiba pengumuman
kelulusan. Masing-masing siswa disebutkan nilai per mapel. Ya, seperti
yang sudah kubilang kan? Nilai ujian itu sangat jauh dari prediksi.
Mereka yang kalian lihat selama ini berprestasi akademik, bisa saja
nilainya lebih rendah. Dan aku..., tersenyum. Memang seperti itulah.
..........
Telah kupersiapkan diri menghadapi semua ini. Kenyataan uyang tak
sesuai harapan. Ujian yang penuh dengan manipulasi. Siswa tak belajar
mampu lulus dengan nilai tak biasa. Siapa salah? Tak penting. Kini
tinggal pasrah dan tabah. Menjadi yang terbaik selama ini tak menjamin
sukses menjadi terbaik di UN. Sekali lagi, mungkin inilah yang terbaik
untukku dari-Nya. Semoga di luar sana akan datang kesuksesan lain.
My lovely home, 01 Juni 2012
tetep semangat ya
BalasHapusmemang kadang ujian itu hasilnya mengecewakan