Wanita itu masih sibuk berkutat dengan segunung tumpukan baju kotor kendati waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suara jangkrik baginya dalah kawan setia. Bersahutan dengan dzikir katak dan sesekali terdengar gesekan sayap tonggeret yang memekakkan telinga. Tangan keriputnya masih cekatan. Memegang sikat tua yang telah banyak kehilangan gigi. Beralaskan kayu tua bergerigi yang sudah hampir lapuk.
Sesekali dikibaskannya
ujung jilbab yang melorot mengenai busa-busa deterjen di bawahnya. Deterjen
yang bermerk paling murah. Bila habis, ia membaliknya. Bagian dalam berada di
luar. Mengais sisa busa agar tak mubazir. Sesekali ia pun berdiri saat kakinya
mulai terasa kesemutan. Dinginnya air hal yang biasa. Tak ia gubris pula
perkataan tetangga bahwa mencuci di tengah malam dapat menimbulkan penyakit nantinya.
Baginya yang terpenting hanyalah bertahan hidup. Dan perkataan mereka hanya angin
lalu. Wujud kepedulian. Tak mengahasilkan rupiah.
Waktu terus berlalu dan
semakin larut. Pukul sebelas malam. Kini semua pekerjaan itu hampir beres.
Tinggal pinggang tua itu terasa remuk. Membayar tukang pijit ttentulah barang
mahal untuknya. Bahkan terkadang ia yang menerima tawaran menjadi pemijit meski
dengan pengetahuan minim tentang urat dan saraf. Terpenting adalah
menghilangkan penat mereka, maka rupiah tak seberapa pun mengalir.
“Mak, kenapa masih
mencuci malam-malam begini. Si Lian kemana? Pastilah sudah pulas ia tertidur,”
suara itu begitu dikenalnya. Datang dari arah samping. Siapa lagi jika bukan
Dini, remaja yang baru lulus Aliyah dan begitu perhatian padnya. Melebihi perhatian
putrinya sendiri yang sudah tertidur pulas.
Sembari membuang sisa
air cucian itu, ia menyahut. “Sudah selesai. Emak kan harus bagi waktu. Besok
pagi sudah harus ke pasar.”
“Ya, Mak. Tapi tidak
baik untuk kesehatan Emak....” Dini
membantunya memeras cucian-cucian basah itu.
“Sini, biar emak saja.
Kamu malam-malam gini juga kenapa belum tidur, Din?” tangan renta itu mengambil
selembar pakaian di tangan Dini.
“Nggak apa-apa, Mak.
Saya bantu sedikit. Tadi saya baru pulang dari rumah Raya. Habis bahas
pekerjaan gitu Mak. Lalu Dini dengar suara Emak sedang nyuci,” Ia tetap memaksa
membantu.
Berkat bantuan Dini
sebenarnya ia bersyukur pekerjaan itu selesai lebih cepat. Namun hatinya tak
enak. Berulang kali Bu Sarinah, ibu Dini, mengingatkannya untuk tak menyuruh
Dini membantunya. Ya, meskipun ia selalu menjelaskan tak pernah meminta, namun
wanita itu tak mau mengerti. Entah mengapa pula wanita itu membencinya. Selama
ini ia merasa tidak berbuat salah.
“Dini!!!” panjang umur
rupanya. Yang dipikirkan menyahut.
“Astaghfirullah, Mak,
udah dulu ya. Dini dipanggil ibu.” Bergegas remaja itu masuk dan mengunci
pintu. Seperti biasa, sang ibu memarahinya habis-habisan. Perempuan tua itu
semakin tak enak hati.
***
Sebelum ayam berkokok,
ia telah bangun dari tidurnya. Menunaikan shalat lail. Tidak, ia tidak memohon
rjeki dalam doanya. Ia hanya meminta agar dapat terus hidup menjaga buah
hatinya. Pun ia memohon Allah menjadikannya anak sholehah.
Matahari belumlah naik
ke peraduannya. Namun wanita itu telah bersiap dengan membawa selendang beserta
sebuah keranjang besar. Ia akan ke pasar pagi itu. Memngumpulkan bawang-bawang
sisa sortiran. Memilih dan milah mana yang masih layak dikonsumsi. Juga sisa-sisa
kol yang telah dibuang. Orang-orang yang datang ke pasar sering memintanya
untuk makanan kelinci. Namun baginya, sayuran itu adalah bagian dari penyambung
hidup.
“Wah, Mak. Seger banget
pagi ini,” Bang Maing, lelaki penjaga kios bawang itu memang selalu ramah
menegurnya.
“Seger gimana...? Mata
sayu begini....” Emak berujar sembari menurunkan keranjang besar di pundaknya.
Rasa ngantuk memang masih menghinggapi. Maklumlah. Pukul setengah dua belas
malam ia baru dapat memejamkan mata. Saban malam selalu begitu. Menjadi buruh
cuci tetangga membuat emak harus pintar mengatur waktu. Pagi di pasar sampai
sore. Malam hari baru dapat pulang.
Lelaki itu tanggap. “Sini
saya bantu, Mak.” Tangannya gesit menyambar. “Emak sudah sarapan belum?”
***
“Maaak!!! Mana sarapannya.
Ini Lian udah kesiangan. Hari ini Lian ujian, Mak. Sekolah kan jauh...!!”
Perempuan tua itu
datang tergopoh-gopoh membawa sepiring nasi dan sayur kol.
Gadis itu, Liana,
lengkapnya Liana Subagyo, bersungut-sungut menendang kursi lapuk di dekatnya. Subagyo
adalah nama mendiang suaminya. Ia pergi empat tahun lalu, semasa Liana duduk di
kelas tiga SMP. Kepergian yang membuatnya harus bekerja banting tulang siang
malam.
“Iya maafin Emak. Ini
emak sibuk nggak ada yang bantu, Nak. Mengerti emak....” ia mencoba mengusap
rambut putrinya semata wayang - rambut yang berulang kali ia menasihati Lian
untuk menutupnya dengan jilbab- namun sentuhan lembut itu ditampik kasar.
“Ingat nggak kata
bapak? Lian tugasnya belajar, belajar, dan belajar.” Ditariknya kursi itu dan
duduk dengan kesal. Menyuap beberapa sendok sayur kol. Ya, setiap hari hanya
itu yang dapat dihidangkan.
“Coba ujian gini yang
enakan dikit Mak lauknya. Telor kek, atau malah daging ayam. Ada susunya apalagi.
Kan enak, Mak. Lian juga jadi makin cepet mikirnya.”
“Maafin emak. Kan Lian
nggak bilang kalau hari ini ujian. UN ya? Nanti emak usahain makan yang enak.
Emak doakan ujiannya bisa lian jawab...” ia tak pernah berhenti bersikap
lembut.
“Haruss!!!! Ya udah
mak. Lian nggak enak makan. Lian berangkat mak!” ia berlalu tanpa pamit taupun
mencium tangan wanita itu.
“Lian!!!”
“Apalagi, Mak!!?” Lian
melotot. “Ah, ya deh. Emaknya yang ke sini. Lian telat nih”
Langkahnya terseok.
Meskipun buah hatinya itu tak sepenuhnya tulus berpamitan, ia lega. Setidaknya
ia masih dianggap. Matanya mengekor kepergian putri tercintanya. Teriring
doa demi kesuksesan sang buah hati.
***
“Mak.... kok diem, Mak?”
disentuhnya bahu wanita itu.
“Eh, nanya apa tadi?
Sarapan? Udah alhamdulillah.”
“Emak kenapa?” ia
mendekat.
“Hari ini anak emak
ujian.”
“Oh.... kalau gitu
doakan, Mak. Jangan bengong aja!!!”
Ia mengangguk. Dzikir
tak henti terucap. Jauh di sana sang putri, yang bersikap seolah putri, tengah
sibuk berpusing ria.
***
“Mak!!Mak!!” jemarinya
yang tengah sibuk memilah bawang sortiran berhenti sejenak. Ia menoleh. Seorang
remaja tanggung mendatanginya tergesa-gesa. Nafasnya tersengal-sengal dengan
raut wajah kecemasa. Para pedagang lain poun menoleh ingin mengatahui apa yang
telah terjadi. Hati wanita itu semakin bertambah cemas.
“Mak!!! Yang sabar
ya.... Lian ketabrak. Ini lagi dibawa ke puskesmas.”
Wanita itu terbegong
tak percaya. Yang ia tahu, putrinya saat ini sedang menjalani ujian di sekolah.
“Jangan bercanda, Mar....
Lian lagi ujian di sekolah. Nggak mungkin ketabrak di jalan.” Ia
bergeleng-geleng tersenyum menenangkan diri sendiri. Meneruskan pekerjaannya.
“Ya ampun. Emak kenapa
nggak percaya?” Kini remaja itu mendekat untuk lebih meyakinkan. “Apa wajah
saya kelihatan bohong, Mak? Ayo ikut kalau tidak percaya” sedikit memaksa
ditariknya tangan wanita tua itu. Emak meringis.
***
“Jadi gimana ujiannya
Lian, Pak Guru?” kekhawatiran menyelimuti hatinya.
“Tetap bisa, Mak! Lian
biar nginap aja di UKS sekolah. Kasihan kalau harus bolak-balik,” guru tersebut
sangat bersimpati. Terlebih lagi Lian dikenal sebagai anak yang cukup pintar. Hanya
akhlaknya yang buruk itu yang kurang terkenal.
“Nginap?” Emak bingung.
Sejenak hening. Hanya ada suara Lian meringis kesakitan.
Dibantu beberapa orang
tetangga, mak membayar biaya di puskesmas. Juga ketika ia membawa barang-barang
seperlunya ke UKS.
“Aduh..., aduh..., kenapa sih jadi gini...? “Air mata
mengalir dari pipi siswi Aliyah itu.
“Yang sabar..., berdoa
cepat sembuh.” Emak mengusap pipi Lian. Kasih
sayangnya bertambah melihat penderitaannya
“Sabar...? Kalau begini
biarpun nginap nggak bisa belajar mak!” Lian kesal. Rupanya hatinya belum terketuk
dengan kecelakaan itu.
“Emak akan selalu
mendoakan Lian. Lian istirahat dulu. Udah malam, Nak....” hati wanita itu
teriris-iris.
***
Hari kedua ujian
benar-benar berat untuk remaja itu. Menahan rasa sakit yang masih basah di
kedua kakinya. Umpatan masih kerap terdengar. Gejolak hatinya tidak menerima
kenyataan yang terjadi. Ia marah. Meski entah pada siapa. Satu-satunya
pelampiasan adalah sang ibu. Wanita yang telah mengorbankan segalanya untuknya.
Cincin pemberian sang ayah mungkin merupakan salah satu saksi betapa besar
cinta sang ibu.
“Ugh...!” ia berpikir
keras. Kenapa semua jadi terasa semakin sulit? Pikirnya. Tangan yang lemas pun
tak dapat maksimal menghasilkan bulatan hitam sempurna. Di luar UKS sang ibu
menunggu dan berdoa. Ia telah berwudhu. Mendoakan yang terbaik.
Waktu berlalu dan dua
mapel hari ini telah selesai.
“Gimana ujiannya, Nak”
ia mengipaskan selendang untuk mengurangi rasa panas di ruangan.
Lian hanya
terdiam. Kemudian ia menyahut ketus.
“ini semua gara-gara, Emak. Kalau aja lian makan pagi pake lauk yang bergizi,
lian nggak akan limbung di jalan, Mak. Nggak akan ada kejadian kayak kemaren!”
meski pelan namun kata-kata itu setajam pisau.
“Maafin Mak, Lian....”
isak mak. Entah, ini kali ke berapa ia yang selalu mengucap kata maaf meski tak
salah. Ya, ia merasa bersalah.
“Maaf-maaf-maaf aja
bisanya emak. Coba sekarang? Mana lauk yang lian minta waktu itu mak?” Rasa
marahnya belum juga berkurang. Saat ini ia ingin menumpahkan seluruh kesalahan
pada wanita itu.
Emak mengusap air
matanya. Hatinya luruh berkeping-keping. “Uangnya buat bayar lian di puskesmas
kemaren. Buat beli obat juga. Nanti..., nanti setelah ujian emak berikan apa
yang Lian mau ya....” bujuk emak.
“Mak, lian juga ini
belum tentu lulus. Gara-gara kecelakaan jadi kacau Mak semuanya! Nanti kalau
nggak lulus, lian mau jadi TKW aja!”
“Jangan..., jangan
Lian.... emak sendiri di sini. Jangan tinggalin emak....” ia meohon. Remaja itu tak peduli.
***
Hari ini 28 Mei 2012.
Seluruh siswa masuk kelas dengan perasaan bercampu aduk. Termasuk remaja itu.
Ia, Lian, masuk kelas dengan detak jantung tak karuan. Hatinya berharap semua baik-baik
saja. Ia mencoba menenangkan dirinya. Namun tetap saja, tulang sendinya serasa
akan copot. Terngiang perkataan salah seorang kawan pagi tadi yang melihatnya
membentak sang ibu di jalanan.
“Lian, aku kira kamu
anak yang baik. Ternyata di sekolah aja kelihatannya begitu. Dia ibu kamu Lian.
Nggak boleh bersikap seperti itu. Bahkan pada ibu yang nggak bener aja, kita
diperintahkan tetap besikap santun. Apalagi pada ibu yang seperti ibu kamu.
Hati-hati loh Lian. Doa ibu itu mustajab. Kamu kasar sama dia. Jangan-jangan
kamu nanti nggak lulus.”
Kata-kata itu menyambar
hatinya. Seoran kawan yang dimatanya sama sekali tak cerdasm mampu berkata
sedemikian rupa. Diingatnya hari di mana ia mengerjakan soal dengan sangat
bersusah payah. Sungguh, kendati hatinya begitu dominan menyatakan ia tidak
lulus. Ia tetap berharap lulus. Kesembuhan datang padanya cukup cepat. Berkat doa
emak kah?
Lian kacau. Ia merasa
sangat bersalah pada sang ibu. Mengapa baru sekarang ia menyadari. Air matnya
mengalir. Ia butuh doa, dari seorang ibu. Namun apakah semua sekarag terlambat?
Amplop kelulusan sudah ada di depan mata. Ya, bagi lian semua terlambat. Kini ia
hanya pasrah. Menyiapkan mental menerima ejekan semua orang. Lian yang sombong
telah menerima batunya.
Pembekalan guru
akhirnya selesai. Dengan cemas ia mendengarkan seksama. Sebenarnya ia ingin
menutup telinga. Tapi tidak, ia harus mendengar namanya sendiri lulus atau pun
tidak.
“Assalamualaikumwarahmatullahahiwabarakatuh.
Anak-anak..., alhamdulillah kita telah memerima amplop kelulusan yang
memuaskan. Meskipun..., seperti biasa,
ada beberapa siswa yang tertunda keberhasilannya. Ingat...!! kalian tidak gagal...”
Deg!! Jantungnya serasa
berhenti. Senyum kepasrahan mengembang. Amplop dibagikan. Putih. Hidungnya
serasa mencium aroma mistik. Jemarinya bergetar. Lian meggigit bibirnya.
Memejamkan mata dan berdoa. Entah, kali ini ia teringat ibunya.bayangan
kesalahan itu terus menghantui. Selanjutnya ia memanjatkan doa. Berharap
kekuatan untuk menerima segala hasil.
Disobeknya perlahan
kertas putih itu. Secarik kertas di dalamnya. Ia membuka lipatan demi lipatan.
Menatap ke bawah. Diarahkannya mata menuju tengah amplop. Di sana....
ditangkapnya deretan tulisan hitam, tebal, bergaris bawah.
LULUS
Hening. Matanya masih
terpaku. Tidak percaya apakah ini mimpi. Sebuah mimpi? Diulang-ulangnya bacaan
itu. Ia tersadar. Seketika bersujud. “Ibu...,” lirihnya. Kini gemuruh di
dadanya tak tertahan lagi.ingi segera bersujud di kaki sang ibu dan memohon
ampun. Banjir. Lalu...
“Lian. Ada kabar
buruk...” Bu Neti tiba-tiba mendekat.
***
“Ibu..., jangan
tinggalin Lian. Lian lulus bu. Berkat doa ibu. Maafin kesalahan Lian selama
ini....”
“Sabar Lian....
doakan ibu kamu. Dokter sedang berusaha”
Dini mencoba menenangkannya.
Setengah jam kemudian
“Saudara ibu ratna.”
“Ya, Dok?”
“Ibu anda...” belum
selesai kaalimat itu. Lian menerobos masuk. Ia tak tahan lagi. Kekalutan
menguasai hatinya. Di sana, dia tas ranjang berlumur darah, ibunya tengah
berbaring. Lian tak kuasa lagi. Dipeluknya tubuh ringkih itu. Tetes demi tetes
air mata menganak sungai.
“Kenapa tinggalin Lian
bu....??? kenapa...? Lian nggak akan jahat lagi. Lian sayang sama ibu...” ia
memeluk tubuh ibunya yang terbujur.
“Li-Liannn... ibu di
sini.”
Remaja itu tersentak. Ibunya
msih hidup. Ya, masih hidup. Dilihatnya senyum yang sangat ia rindukan itu.
Sebuah lesung pipit di pipi yang keriput. Kebahagiaan tak terungkapkan.
“Ibu... Lian sayang
ibu...”
SELESAI
Kaltim,
22 April 2012
Di hari kartini dan
ba’da UN.
Terlambat memposting. Sebab
menunggu hasil terima/rijek nida. Masih banyak kekurangan. Mungkin sudah dirijek.
^_^ semangat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar