Pahitnya sebuah kejujuran tetaplah lebih manis dari kebohongan
paling manis sekali pun
Benar? Ya, benar. Namun begitu
sulitnya menerapkan sebuah kejujuran ya? Itulah arti kejujuran. Kejujuran begitu
mahal. Ia begitu berharga tinggi hingga seringkali banyak pengorbanan yang kita
harus lakukan demi mempertahankan nilai sebuah kejujuran.
Lalu apa hubungannya
dengan postingan kali ini?
Bercerita..., bahwa air
mata ini menetes memandang nomor demi nomor soal. Agh, baru kali ini kurasakan
menajadi seseorang yang tak bisa berbuat apa-apa. Sebodoh inikah diriku.?
Hingga akhirnya sesuatu tak
terduga datang...
“buka aja bukunya. Asal jangan
bilang ibu ya”
Aku tersentak mengatahui
asal suara itu. Asisten dosen. Bukankah ia seharusnya mengawasi kami? Bukan malah
mengajarkans sesuatu yang tak pantas. Tidak berhenti sampai di situ. Ia bahkan
menjawab pertanyaan beebrapa kawan yang tak mengerti penyelesaian jawaban. Agh...
Lalu aku harus apa?
Aku tertunduk lesu,
lemas. Taka da satu pun yang kupelajari keluar di soal. Tak ada satu pun.
Biarlah... biarlah
mengulang dan mendapat nilai nol. Biarlah menjdi cemoohan. Elajaran hari
itu..., kejujuran begitu pahit. Aku harus berusaha lebih. Aku harus lebih. Aku harus
terus berjuang. Harus terus berjuang. Ini bukan masalah nilai. Bukan. Ini tentang
identitas sebagai seorang muslim. Jadikan Allah sebagai penentu baik buruknya
tingkah laku yang akan kita lakukan. ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar