Pernahkah saya
bercerita? Tentang ini...
Suatu ketika saya
mempertanyakan sebuah ayat. Bahwa yang boleh terlihat dari seorang wanita
adalah wajah dan telapak tangan. Saya pertanyakan, mengapa wajah? Mengapa bukan
kaki? Bandingkan antara wajah dan kaki. Keterpikatan seorang pria bukankah dari
wajah? Fitnah wajah bukankah lebih besar?
Jawana dari dosen tidak
memuaskan saya. Maka di waktu istirahat, saat saya dan beberapa teman membedah
buku, tercetuslah kembali pertanyaan tersebut. Dan saya mendapatkan jawabannya.
Seorang teman bercerita
tentang pertanyaannya pada sepupu...
“kak, andai di masjid
bertemu dnegan wanita bercadar yang tersingkap wajah dan kakinya terlihat,
bagian mana yang langsung kakak lihat?”, tanyanya.
“Kakinya dek, karena
dari kaki akan terlihat bagaimana seorang wanita menjaga kebersihan dirinya. Dan
seorang wanita yang rajin menunaikan shalat lima waktu biasanya kakinya akan
terlihat bersih.”
Kisah itu cukup menajawab
pertanyaan saya. Dan menyadarkan saya betapa tidak pantasnya menyakan kebenaran
sebuah ayat-ayat Allah.
Persepsi itu datang
dari seorang ikhwan. Saya tidak tahu bagaimana dengan anda. Ayng saya tahu,
seorang manusia cenderung ingin mendapatkan sesuatu dalam bentuk dan kondisi
sebaik-baiknya. Dalam hal fisik mau pun akhlak. Kecenderungan pada yang lebih
baik itu wajar. Itu menurut saya.
Selanjutnya. Pantaskah kita
berharap pada yang lebih baik sementara kita sendiri dalam kondisi hancur
berantakan? Saya sadar. Sadar sesadar-sadarnya teman. Saya berharap pada ayng
lebih baik semantara saya masih dalam kondisi kurang ilmu, kurang segalanya. Bukan
merasa rendah diri. Tapi apakah tidak iri melihat orang-orang sukses di luar sana. Sukses spiritual. Mereka terlihat
begitu bahagia berada dalam keimanan. Sebab kenikmatan hidup akan terasa jika
kita merasakan pula manisnya iman.
Tiada seorang yang
sempurna. Saat masa lalu menjadi bayang-bayang yang menghambat, maka patahkan. Ini
yang saya pelajari. Saya begitu mengagumi akhwat-akhwat dan ikhwan-ikhwan yang
terlihat begitu sempurna. Namun setelah saya tahu lebih jauh, mereka juga
memiliki masa lalu. Masa lalu ayng tidak semuanya indah. Masa-masa jahiliyyah.
So, tak ada kata
terlambat bagi kita untuk terus berubah menajdi lebih baik. Jadilah muslim dan
muslimah sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar