Beda

Jangan melihat seorang penulis hanya dari banyaknya karya yang diterbitkan. Ada yang lebih penting dari itu. Kualitas tulisan dan seberapa besar dampak/efek yang ditimbulkannya bagi pembaca.
Huft. Jika perlu mengernyitkan dahi, maka sekarang waktunya. Berpikir..., instropeksi diri. Apa yang sudah kulakukan dengan anugrah Allah berupa jari-jemari ini? Anugrah pikiran yang dengannya kita mampu berpikir? Anugrah alam dan seisinya yang dengannya kita mendapatkan ide? Anugrah rejeki berupa seperangkat notebook? Anugrah ide-ide cemerlang media yang dengannya berkembangalah media sehingga kita memiliki kesempatan besar mempublikasikan sebuah karya? Apa lagi? Tak akan sanggup kita menghitungnya kawan. The next question. Apa yang sudah kita lakukan? Apa? Apa?
Ayo generasi muda. Bangkitlah. Jangan terpuruk pada keadaan seperti ini. Tidakkah kalian menangis melihat kondisi kita yang terus menerus dijajah seperti ini? Kita pun ummat muslim diadu domba.
Perang pemikiran. Oke. Kalau itu yang dilakukan barat, maka kita balas dengan cara yang sama. Lewat pena kita berkarya. Mengubah dunia, Kawan. Jangan hanya ingin selalu menciptakan roman-roman picisan murahan yang melemahkan iman. Ciptakan karya-karya heroik yang menguatkan iman kita, membangkitkan semangat juang. Meski hanya pada skala yang kecil, tidak berarti ia akan sia-sia.
Lalu penulis sendiri? Bisa-bisanya menyuruh ini itu tapi penulis sendiri tidak melakukannya kan?
Tenang. Penulis pun masih dalam proses belajar. Nah, kalau memang ada penulis lain yang memang sudah mahir menulis kan bisa tuh dimanfaatkan. Jadi bukan sekedar mengajar yang masih dalam proses. Ini untuk semua loh. Silahkan...!!! silahkan yang sudah mahir berkarya, buatlah sesuatu yang beda. Tahu kan maksudnya. Seperti yang sedikit dijelaskan di atas. Mengubah dunia lewat tulisan yang beda.

Siip sippp! Selamat berjuang...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar