“Sudah
bulat keputusan yang anti pilih?” ia menanyakan lagi hal itu. Jawabannya tetap
sama.
“Sudah.”
Aku memalingkan wajah lebih jauh lagi, tak ingin ia membaca ekspresiku.
“Sebenarnya
masalahnya apa sih, Ukh. Setahu ana keluarga anti mendukung, kan?” Ah, ia
menyelidikiku. Dadaku sudah sesak dibuatnya. Aku lelah.
“Nggak
semuanya perlu anti tahu, kan?” kucoba tetap menahan emosiku. Tentu agar ia berpikir
ini bukanlah keputusan saat aku sedang tak berpikir jernih.
“Ana
juga sudah shalat istikharah. Jadi jangan anti tanyakan lagi ini itu. Yang jelas
keputusan ini sudah final.” Jelasku lagi.
Kini
ingin kulangkahkan kaki untuk pergi. Perbincangan macam ini harus kuhindari ke
depannya. Barangkali saat aku telah benar-benar pergi pun mereka akan datang
lagi dan lagi. Bertanya hal yang sama. Memperbincangkan hal yang muak sudah
kudengar. This is my way.
“Biarlah aku memilih jalanku” kulontarkan
pernyataan terakhit itu sebelum pada akhirnya benar-benar pergi. Meninggalkan ia
duduk mematung. Mungkin ia tak paham. Ya, sebab aku tak menjelaskannya. Dan tak
akan pernah, karena tak perlu menjelaskannya.
***
Langkahku
berjalan tak tentu arah. Mengikuti kekosongan hati dan keruhnya pikiran yan
sebenarnya amat sangat kusadari. Benarkah aku telah mengambil keputusan ini? Aku
tak percaya, tapi inilah yang terjadi.
Tunggu
dulu! langkahku terhenti. Berpikir sejenak. Aku melupakan sesuatu. Apakah semudah
ini? Pergi? Lalu berarti meninggalkan semua?
Arrrgh!!
Apa-apaan? Apakah ini sebuah keraguan? Tidak. Tidak boleh ada keraguan. Aku tidak
mungkin menjilat ludahku sendiri. Semua sudah berakhir. Setidaknya dengan
mengungkapkan semua pada Saima, mereka tidak akan mempertanyakan lagi
ketidakhadiranku pada tiga pertemuan ke depan.
Kupercepat
langkahku. Istirahat adalah solusi terbaik untuk saat ini.
***
Sial.
Mereka masih menerorku. Sms taujih bertubi itu bagiku adalah teror. Enough! Aku
sudah keluar. Tidakkah Saima menjelaskan pada mereka? Memang ini baru seminggu.
Tapi bukannya ini sudah cukup? Ugh! Kubanting buku di tanganku. Tak lagi sadar
ia adalah ilmu yang semestinya sungguh kuhargai.
Kepala
ini terasa semakin berat. Nafsu belajar yang hilang, mood berubah buruk, pusing
menghinggapi.
Saima...,
Wanita
itu..., pertama kali berkenalan dengannya delapan bulan yang lalu. Berkenalan ala
maba. Malu-malu. Ada perasaan seperjuangan mendaftar ulang yang akhirnya membuat
kami akrab. Meski mengambil jurusan yang berbeda, tak menghalangi kedekatan
kami. Mungkin karena masih sama-sama fkip.
Bertukar
nomor hp. Saling menguatkan, memotivasi, menasehati. Ia sosok yang dewasa. Hingga
akhirnya aku tahu, kedewasaan itu didapatnya dengan pemahaman. Pemahaman yang
diperoleh dari sebuah harokah. Melalui dia, aku masuk. Tidak adanya pengalaman
berorganisasi membuatku begitu bersemangat. Tapi entah mengapa lambat laun ada
perasaan aneh yang muncul. Spiritku menguap.
Saima.
Ia luar biasa. Barangkali aku terlalu terobsesi untuk menjadi sepertinya. Ia tampil
dalam setiap event. Memegang amanah yang tidak ringan. Ada di posisi penting. Ia
begitu dipercaya. Sepak terjangnya di dunia dakwah tak pernah diragukan. Mengutamakan
Allah dalam segala hal. Tawadhu, sabar, penyayang, selalu bersyukur, istiqomah,
tegas, teguh, dan hal-hal lain yang kukagumi darinya. Kenyataan tak semudah membalik
telapak tangan. Butuh proses dalam ruang waktu yang tak singkat. Tapi aku
menyerah. Ya, aku menyerah. Aku hanya sampai pada titik ini. Titik jenuh yang
menyeretku keluar. Ketidaksadaran yang tumbuh dari hati saat aku masuk kini
membawaku keluar.
Lalu
di mana perasaan kehilangan itu? Entahlah. Aku seperti tak merasaknnya. Really?
Selama ini aku menganggap dia sebagai apa? Di mana semua kalimat tentang
persahabatan yang acap kali kuungkapkan. Aku menanam, aku pula yang
mencabutnya. Hatiku mati
***
Tiga
minggu berlalu begitu saja tanpa agenda rutin yang dulu seringkali kurasa
begitu mengejarku. Mngharuskanku me-manage waktu. Mengorbankan tidur siangku. Rela
berpanas-panasan selama dua jam sambil berteriak-teriak lantang menghujat
kezaliman. Belum lagi kantongku yang terkuras untuk beberapa hal.
Kurelakan
merogoh kocek demi pergi dari mereka. Pindah kos. Berganti nomor hape. Memasang
wajah masam selama tiga minggu, menghindar. Cuek. Semakin mengeraskan hatiku. Yang
kutahu, kuingin, kini aku bebas.
Matahari
yang begitu terik memaksaku mampir di sebuah warung.
“Es
tehnya satu ya, Bu.” Seruku sambil mencari tempat duduk yang kosong.
“Saya
es Melon satu, dan teman saya es mangga ya bu. Dibungkus saja”
Kutengok
asal suara itu. Dua orang anak berseragam putih-biru mengantri di sampingku. Mereka
tampak anggun. Salah satunya berkerudung putih lebar
“Kenapa
nggak minum di sini aja, Ta?” tanya salah seorang diantaranya.
“Hust!
Jangan Fi. Coba lihat di sekeliling kita, banyak laki-laki.”
Gadis
yang bertanya itu melihat sejenak.
“Emmmm,
tapi kan kita bisa menjaga pandangan.”
“Kita
bisa. Tapi apakah yakin mereka juga bisa menjaga pandangannya? Sebanarnya memang
mubah saja, Ukh. Tapi untuk kewara’an, kehati-hatian kita, jadi sebaiknya kita
cari tempat lain saja ya.”
Jawaban
itu menyentakku. Tiba-tiba kuurungkan niat untuk duduk manis menikmati teduhnya
atap di sana. Mataku berkeliling. Benar saja.
“Ibu,
tolong saya juga es-nya dibungkus ya. Saya buru-buru.” Buru-buru? Ah, itu hanya
sekedar alibi agar tak terlihat aku mengekor mereka.
Kulangkahkan
kaki untuk pergi sesegera mungkin. Kekaguman ini tak bisa disenbunyikan. SMP? Usia
sekecil itu tapi mereka telah mengerti hukum. Aku melihat diriku sejenak. Bagaimana
denganku?
Sebuah
pohon rindang di pinggir jalan mengaluhkan perhatianku. Ada sebuah bangku di
sana. Ah, cocok sekali.
Tanpa
kusadar dua orang remaja SMP tadi duduk di hadapanku, pada sebuah batang kayu
yang memang dibuat sebagai bangku. Persis
berada tepat di depanku.
“Permisi
ya Mbak, saya membelakangi.”
“Oh,
eh, ya nggak apa-apa dek,” jawabku sedikit terkejut.
“Kamu
berbeda sekali, Ta” kutangkap percakapan di antara mereka.
“Berbeda
gimana?”
“Dewasa”
Dewasa?
Percakapan itu memutar kembali memoriku tentang masa lalu. Antara kami. Aku dan
dia.
“Apa
definisi dewasa itu menurut anti ukh?” gadis yang dipanggil Ta itu menoleh. Ia tersenyum.
“Emm,
sulit mengungkapkannya. Yang jelas, yang ku tahu, ya sepertimu ta. Seperti sikapmu.
Bijaksana.”
“Dewasa
itu Fi..., adalah saat kita bisa memutuskan sesuatu berdasarkan hukum syara.”
“Maksudnya...?”
“Hemmm,
begini. Saat kita dihadapkan pada suatu masalah, kita memecahkannya dengan
bersandar pada aturan Allah, yang tercantum di dalam al-Quran dan sunnah. Begitu
pula dalam perilaku sehari-hari, kita senantiasa berpedoman pada hukum Allah,
pada aturan Syara’, itulah yang disebut dengan dewasa. Jadi meskipun seseorang
terlihat terlalu ceria misalnya, seperti anak kecil, bukan berarti dia tidak dewasa. Bukan berarti
masih anak-anak. Kita lihat lagi sikapnya di dalam hidup. Standar kedewasaannya
ya pemahamannya pada hukum syara”.
“Oh...
begitu ya? Sepertinya aku paham, Ta. Kalau begitu untuk menajadi dewasa, aku
masih harus banyak belajar tentang hukum syara’ ya?”
“Itu
pasti, Ukhti. Agar kita semakin paham mana yang boleh dan tidak boleh dalam
aturan Islam. Untuk itulah saya selalu mengajak ukhti mengikuti kajian bersama
kami...” gadis itu merangkul pundak sahabatnya.
Air
mataku menetes. Betapa tidak dewasanya sikapku ya Allah. Ia benar. Kedewasaan itu
tidak dilihat dari hal lain, apa lagi hanya dari segi usia melainkan dilihat
dari digunakannya hukum syara’ sebagai standar kehidupan.
Aku
berlari. Menangis. Lihat! Gadis sekecil itu mampu berskap dewasa. Malulah aku
wahai Allah. Kutinggalkan jalan dakwah-Mu hanya karena keegoisan hati. Perasaan
tak logis menjerumuskannku, menjauhkanku dari cahaya-Mu. Kutiti jalan yang
bengkok. Aku beralih penuh ketidakjelasan. Sejujurnya ketenangan itu tak
kudapatkan walau jauh aku tlah pergi.
Kini...,
biarlah kembali kurengkuh nur itu. Kembali pada jalan yang seharusnya. Menggenggam
erat jemari hangat yang selama ini kutinggalkan. Tak perlu malu karena aku
pernah pergi. Akan lebih malu jika di
sana nanti Engkau mempertanyakan peran dakwahku. Keringat yang harus menetes
nanti bukanlah apa-apa. Harta yang kukeluarkan pun sebenarnya tak seberapa. Aku
belum berkorba nyawa. Waktuku, ia sebenarnya tak terbuang sia-sia. Kemunafikanku,
kefasikanku selama ini menafikan kebenaran.
Allah,
rengkuhlah kembali diri ini kembali pada jalan-Mu...
Terinspirasi oleh sebuah kalimat
luar biasa, bahwa “kedewasaan adalah ketika kita selalu bersandar pada hukum
syara”
NB: Kesempurnaan hanya milik Allah.
Maka cerpen ini, masihlah penuh dengan kekurangan.
Menata
kembali jiwa yang hampir rapuh, 20 Juni ‘13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar