Lepas

Tugas mengejarku. Terjatuh, bangun, jatuh lagi. Deadline di depan mata.
Setiap manusia diberi waktu yang sama. Hanya saja beberapa di antaranya tak dapat mengelola. Aku, mencoba menjadi manusia beruntung, yang tak pernah “kehabisan waktu”, dan tak akan merasa “kurang”.
Hidup indah jika terus seperti ini. Perlu pengalih agar terhindar dari hal-hal mubah yang jatuhnya malah memberikan mudharat. Akibatnya dosa.
Konsekuensi pilihan di masa lalu. Sebuah perjuangan yang harus di lewati. Sampai tulisan ini kubuat, aku masih berjuang, dan masih “ada”.
Sama seperti yang lainnya. Ada suka, duka, canda, tawa, nano-nano.
Mengusahakan yang terbaik, meski bukanlah yang terbaik.
Usaha itu penting, tapi jika tanpa doa, rasanya tawar.
Senyum orang tua terbayang di pelupuk mata. Tapi belum waktunya pulang. Masih belum waktunya...
Rasa cinta tetap bertahan. Perasaan yang tumbuh karena ikatan, hubungan darah, kekeluargaan. Bunda, ummi, mama, ibu, atau apalah semacamnya, akan selalu menjadi yang kurindukan. Tak terkecuali abi, ayah, bapak, miss u too.
What about the other love?
Entahlah. Tak pantas rasanya. Bukankah sudah kukatakan di paragraf atas. Cinta hanyalah milik  hubungan yang sah. Tanpanya, itu bukan cinta. Hanya syahwat, rasa suka, yang perlahan dapat sirna, yang datang pergi sesuka hati, yang hinggap di sana sini, yang mengombang ambingkan sang muda, yang katanya bikin gila, padahal ia bukan cinta.
Well, terus belajar dan memperbaiki diri. Walau tak akan sempurna, setidaknya nyaris dan berusaha. Tenang saja. Bukan UN yang dinilai dari hasil. Allah melihat prosesnya.
Merasa kehilangan bukan alasan tuk goncang. Berpisah karena jarak.
Negkau kembali, atau aku yang datang. Tak apa keduanya.
Inginku menjadi aku yang tak biasa. Tapi tak biasa di mata Rabb-ku. Sebab untuk Dialah aku hidup dan mati. Dunia ini fana. Kehidupan nyata setelah mati, kau tahu, aku pun tahu, ia menunggu kita.
#diselakesibukan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar