Suatu
ketika dalam sebuah mata kuliah filsafat seorang dosen wanita berkata, “gak
usah bawa-bawa agama lah. Kita lihat dari pandangan umum saja.” Saat itu sedang
berlangsung diskusi mengenai kloning.
Ini
memang miris. Padahal sang ibu sendiri berkerudung. Kalau memang dalam
perkuliahan jangan membawa-bawa agama lalu mengapa si ibu sendiri memakai
kekrudungnya?
Ah,
pemisahan agama dengan kehidupan sudah sedemikian memperihatinkan. Sekulerisme menjadi
virus.
Bertaqwa hanya di mushala, bukan di luar
Jaga hijab hanya di masjid, bukan di luar
Jangan
bawa-bawa agama, ini Indonesia
Ghadul
bashar hanya pada sesama aktivis,
lainnya tidak
pantaskah
kita terus mendengungkan berlebihan toleransi akidah pada agama lain? Menghormati
agama lain, menghargai sedemikian rupa, sementara ajaran agama sendiri
diinjak-injak?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar