Aku
tahu pasti ia lelah dengan keadaan ini. Ia ingin berlari. Apa daya kaki berat
melangkah. Harus ada seseorang yang menyeretnya pergi. Jika tidak, ia akan mati.
Jiwanya mati walau raganya masih di sini.
Kekecawaan
bertubi-tubi. Ia lelah dan amat penat.
Ia
tahu, pada manusia, kekecewaan adalah sebuah keniscayaan. Ia tahu. Sebab ia pun
hanyalah manusia. Berbeda dengan Tuhan, selalu mengerti. Walau kadang ia baru
mengerti setelah berusaha keras dan hampir mati. Setelah kesal dan sakit hati. Setelah
sadar dan insyaf diri. Ia tahu dengan sangat pasti, ia tahu, hanya Tuhan yang
tak akan menyakiti.
Rasaanya
ia ingin memaki, orang-orang tak tahu diri. Ah, tapi ia takut jadi munafik. Bisa
saja ia diteriaki lebih keras lagi.
Sungguh,
ia merasa amat terlambat pada hal yang tak terjelaskan. Cukup ia dan Tuhan yang
tahu. Sungguh, dulu mengapa ia begitu lemah. Yah,,, penyesalan datang
terlambat.
Walakin,
ia tahu, cinta Rabbnya masih ada. Masih mengalir deras melebihi tajamnya air
terjun menghantam bebatuan. Rabbnya masih ada dan akan selalu ada. Ia hanya
perlu, kembali pada-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar