Ada orang-orang
yang benci menyembunyikan sedemikian rupa isi hatinya. Tetap bertegur sapa
meski hati cenat-cenut menahan dongkol. Ia benci. Membawa perasaan itu kemana
pun. Seperti menenteng telur busuk, tak ada untungnya, malah sebenarnya ia
rugi.
Lebih rugi
lagi yang benci dan tak dapat bertegur sapa. Selalu memalingkan wajah setiap
kali bertemu. Sejatinya ia sudah kalah. Tak mampu melawan emosi diri. Orang seperti
ini bagai membawa sekarung telur busuk, bahkan lebih. Benar-benar tak ada
untungnya.
Ada pula
yang mencintai, sedemikian rupa menyembunyikan isi hatinya. Dalam-dalam hingga
benar-benar tak nampak. Malah terkadang timbulkan salah persepsi. Orang mengira
ia benci, sebab amat menjauhkan diri, menjaga jarak berkilo-kilo meter. Untuk apa?
Menjaga hati, kehormatan, dan harga diri.
Keduanya-duanya,
baik benci mau pun cinta, hendaknya selalu berpijak pada aturan-Nya. Cinta dan
Benci karena Allah, begitulah kira-kira. Jadikan Allah selalu sebagai alasan pantaskah
kita membenci atau mencintai. So, tolak ukurnya bukan diri sendiri. Sebab hati
amat dinamis, berubah-ubah tanpa takaran pasti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar