“bu guru, bu guru. Ih ada bu
guru.”
Huh, adeuh.... dasar anak
kecil. Saya jadi nggak enak. Haha. Tapi mengaminkan. Belum apa-apa dipanggil
guru. Hihi. Amin, amin, amin. Modal awal dah dapat, yaitu chemistry-nya. Balas senyum
aja ama tu anak-anak TK.
Menjadi guru? Hem, nggak
sepenuhnya cita-cita saya. Awalnya kepingin jadi dokter. Ditambah lagi saran Bu
Kepsek, katanya cocok jadi dokter. Saya belum sepenuhnya sadar kalau saya nggak
kuat lihat darah, lihat orang merintih sakit, lihat ulat, de-el-el. Bisa pingsan
nanti. Denger berita sadis sedih di tivi aja langsung bercucuran air mata. Hum...,
Setelah dipikir, baru sadar. Akhirnya
jadi guru saja. Lagipula saya dari keluarga dulu. yah, itung-itung calon
generasi penerus lah. faktor lain adalah keuangan. meski kata umi kalau saya mau jadi dokter, duit urusan belakang. Tapi nggak tega. apa lagi sekitar lima bulan ke depan adek baru lahir. Welcome sayang... ^_^
Apa pun cita-citanya yang
penting ikhlas dan berjuang. Nanti sebagai seorang guru, akan saya cetak calon
dokter, pilot, masinis, guru, dosen, bla-bla... ^_^ aamiin
Hidup harus melawan arus. Saya
nggak setuju tuh ama yang bilang ‘jalani aja. Ikuti arusnya’. Wah, kalau begitu
mah gaswat. Kapan majunya. Rejeki nggak datang kalau nggak dijemput. bTul?
Hari ini harus daftar ulang. Puasa-puasa
gini keliling. Asap. Debu. Capek. Lemes. Nggak apa-apa. Ini baru perjuangan pertama. masih banyak
tantangan berikutnya menyusul.
Salah satunya ya itu, melawan
arus. Kalau terbawa arus SMD, bisa-bisa pulang nanti udah jadi rocker (aneh ni).
Oke. Sebagai teman, tolong ingatkan saya ya nanti. Kalau saya salah,
diperbaiki, diingetin, dinasehatin.
Terima kasih... ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar