Jangan
lupa kritik dan sarannya. Bagi saya itu sangat berharga
Saat saya memasang teks itu, saya sudah
siap konsekuensinya. Ya, dikritik dan diberi saran.
Gaya penuturan saya ngekor annida ya? Jujur
saya sendiri baru sadar saat ada yang mengkritik begitu. Sebenarnya tidak semua
ngekor. Mungkin karena “kebanyakan mirip”, jadi kelihatan nyontek banget. Dalam
keseharian, ya beginilah saya.
Nida itu akrab, bersahabat, konsisten, dan tulisan-tulisannya
mencerahan. Nida juga banyak menginspirasi saya. Memotivasi. Mendorong saya
untuk menulis seperti sekarang ini. Nida is the best. Nurani terdalam tak
menyalahkan semua kemiripan ini. Apa salahnya mengekor sesuatu yang baik? Selama
itu halal dan bukan dalam hal kemaksiatan.
...
Membaca buku yang gaya bahasanya meremaja
dan membaca annida ternyata mempengaruhi alam bawah sadar. Begini jadinya.
Hehe.
Dibilang menggunakan bahasa annida
sebenarnya saya malah senang. Selama ini saya mikirnya ini belum benar-benar
“nida banget”. Jadi saat ada yang bilang terlalu ngekor. Syukur walhamdulillah.
Why? Because salah satu mimpi saya adalah menjadi kru nida bagian tulis
menulis. Otomatis sense tulisan nggak boleh menyimpang dari jiwa nida kan?
Kalau beda banget, bisa-bisa pembaca nida pada shock. Trus kabur.
Tapi sebagai penlis yang baik, saya terima
kritikan. Plus saran. Betul juga. Harus punya ciri khas. Its me, BYWnE.
Hanya saja.... gaya bahasa saya mungkin
nanti tak bisa terlalu jauh berubah. Ceria dan berusaha renyah. Rasanya bagi
saya agak sulit untuk “serius” mengolah kata. Dengan bahasa ringan saya
berharap pembaca senang. Membiasakan diri untuk berinteraksi agar saat menjadi
guru nanti saya terbiasa mengolah kata yang mudah dicerna siswa ( masih mimpi
).
‘ala fikroh, mengkritik dan dikritik sudah
menajdi bagian dari hidup kita ya? Yang aneh jika seseorang suka dan pandai
mengkritik, tapi tak mau dikritik. Semoga kita bukan golongan daripadanya.
Pembaca yang dirahmati Allah, dalam
mengkritik ada hal yang juga patut kita perhatikan. Di sini saya bukan sok tahu
atau menggurui. Hanya ingin berbagi.
Pertama, bahasa dan diksi.
Bahasa dan diksi bagi saya ibarat pengganti
mimik wajah. Pengganti ekspresi. Sebab sangat tak mungkin wajah kita terlihat
di atas tulisan. Pilihlah bahasa dan diksi yang bersahabat.
Beberapa kali saya menerima sms dari kawan.
Terserah
aja
Membaca sms seperti itu, saya agak takut,
ragu. Takut. Dia ini marah atau gimana? jika itu kawan yang selama ini saya
kenal pemarah, biasanya otomatis saya berpikir dia marah. Untuk memastikan
biasanya saya sms balik dengan nada bercanda. Kalau dibalas, berarti dia tidak
marah.
Mengambil pelajaran, saya usahakan selalu
sms denngan nada bersahabat. Saya tidak ingin orang lain salah paham.
Ok.
Terserah aja say
Beda kan? say itu saya katakan khusus cewek. Terkadang saya ganti
dengan panggilan akrab dan lucu dari masing-masing teman.
Saya kenal seseorang. Orangnya pintar.
Dalam diskusi selalu aktif memberi komentar, kritik, dan saran. Sayangnya,
bahasa yang ia gunakan tidak tepat. Jadi terkesan sewot. Kawan yang diberi
kritik pun sering jadi terpancing emosinya. Kritik dan saran pun jadi tidak
diperhatikan. Malah saling debat. Ada yang balas kritik pedas-pedas saat
gantian tampil. Ada yang ngomel di belakang jelek-jelekin dia. Ada yang diem
aja tapi hati terluka.
“ih,
si fulan itu ngritik atau apa sih? Bagus sih kritiknya. Tapi coba bahasanya
jangan gitu. Sakit hati kan kita jadinya.”
Itu biasanya omelan kawan-kawan saya.
Personally, saya si nggak masalah. Yang penting
bermanfaat, ya didengarkan. Kebetulan paman juga sering blak-blakan nasehati
atau kritik. Pun dengan bahasa dan cara yang beliau mau. Marah? Nggak lah. Saya
pernah dengar, di mana ya, saya lupa. Katanya
orang yang tidak mau dengar kritikan itu nggak akan masuk surga. Bener nggak
ya? Terlepas dari itu, ambil positif aja. Anggap aja benar.
Unzur ma qiila wa la tanzur man qoola
Lihat yang dikatakan, jangan lihat yang
mengatakan
Secara luas saya pahami la tanzur man qola
itu jangan pandang orangnya. Meskipun gila kalau perkataannya benar, ya
dengarkan. Laksanakan. Juga jangan lihat dengan cara apa dia berbicara. Dia bentak,
marah, atau memaki-maki pun, kalau benar, ya patuhi.
Kedua, smiley
Menurut saya si, ini penting. Menjalin keakraban
dan menebar senyum. Bukankah senyum itu ibadah? Makanya saya sering komen
dengan ujung :)
Yah, menyenangkan hati pembaca dan orang
yang saya beri komentar.
Endingnya, i’ll try to create my style. Entah
hasilnya nanti bagaimana, yang penting usaha dulu. Jangan putus asa.
Thanx buat pembaca BYWnE.
Wassalam... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar