Teman-teman,
tau ggak sih apa yang sekarang ii lagi ngetrend? Hayo.... tau nggak? Atau
pertanyaannya diganti deh. Sadar nggak apa yang sedang trend sekarang? Eng ing
eng! Krik krik! Jduar!!!!!!!
Ayo dong
dijawab. Kalau ada yang jawab yang sedang trend itu bayasa alay.... SALAH. Yang
sedang trend itu kerudung saringan tahu. KURANG TEPAT. Yang sedang trend itu
gaya jilbab gaul. MASIH KURANG TEPAT. Trus apa donk? Hmmmm, kasi tau nggak
ya..? kasi tau nggak ya...?(alay.com) ^_^
Ada
satu.... lihat donk. Ah..., nggak hebat nih nebaknya. Itu loh, hamdu. Bukan
nama orang ye. Apaan coba? Hamdu alias hamil duluan. Astaghfirullah.
Hehe. Ada
yang aneh dengan perkataan saya? Sepertiya nggak ya? Di setiap sudut di negeri
kita tercinta ini sepertinya fenomena berlaku sama. Untuk mereka, slogannya
LEBIH CEPAT LEBIH BAIK. Naudzubillah.
Teman-teman,
sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran saudara-ssaudara kita. Saya katakan
saudara sebab mayoritas pelaku berstatus muslim. Ke mana hati dan keimanan mereka. Yang ngakunya
muslim tapi masih bertingkah layaknya seorang tak beragama. Apa islam itu hanya
KTP? Cita-citanya masuk surga, tapi tak mau berkorban demi mendapatkannya.
Adakah sesuatu yang instan bisa didapatkan? Tidak. Bahkan mie instan pun ada
prosesnya.
Lalu
bagaimana mereka sebenarnya? Saya yakin, nurani terdalam mereka berteriak,
berontak, merintih, menyadari begitu banyak dosa dan kekhilafan. Ya, sebab pada
dasarnya itulah hakekat dosa. Kita malu dan takut ornag lain mengetahuinya.
Hanya saja pada banyak orang, rasa-rasa itu tertutup oleh nafsu dan gengsi
berlebihan.
Jika pada
dasarnya setiap orang itu baik, maka itu adalah sebuah potensi patut
dikembangkan. Cari di mana masih tersisa titik putih dari sebuah hati yang
telah menghitam oleh dosa. Biarkan cahaya taufik dan hidayah perlahan merasuk.
Resapi betapa indahnya menajdi seorang muslim kaffah. Tak perlu malu dengan
masa “jahiliyyah” kita. Setiap orang berhak memliki masa lalu.
Kembali ke
masalah hamdu. Fenomena hamil duluan seolah bukanlah hal tabu lagi ya? Ya
iyalah, lha wong namanya saja sudah “fenomena”, so, sudah banyak yang jadi
anggotanya. Anda termasuk? Naudzubillahhimindzalik.
Apa sih
sebenrnya arti cinta?
Pertanyaab
itukah yang kemudian menajdi dasar maraknya hubungan tak jelas? Pencarian makna
cinta. Halo...! hai...! makna cinta sebenarnya itu adalah setelah menikah.
Ingat, pacaran sebelum menikah itu hanya penuh dengan kebohongan. Saling
menutupi kekurangan diri demi terus dikasihi. Apa itu namanya cinta? Halo..!
cinta dalah sebuah kejujuran. Jadi untuk apa berbohong. Cinta adalah sebuah
ketulusan. Jadi untuk apa menutup-nutupi kekurangan. In the maksud? Kita harus
jujur tentang semuanya gitu? Terus kita buka-bukaan tentang segalanya gitu?
Trus kita tulus ama dia dan rela segalanya dikorbanin giitu? Hadeuh! Sekalian
aja baca alif sampai wauw! Ayo, serius. Ini bukanlah hal ayng patutu
dipercandakan. Ini adalah masalah masa depan ummat.(cie bahasanya ya?)
Teman-teman,
bagaimana ya kira-kira masa depan ornag Indonesia. Kita saat ini adalah hasil
dari piliha kita di masa lalu (ustadz felix siauw@beyondtheinspiration). Yupz.
Terasa tidak?saat ini misalnya. Saya belajar di unmul. Itu adalah hasil piliha
saya beebrapa bula silam. Saya berkerudung, itu adalah hasil pilihan saya
dahulu. Intiya semua merupakan hasil pilihan. Oke? Gantian. Tegoklah diri anda.
Amati satu per satu.
Bagaimana?
Dapat kita simpulkan bahwa semua bergantung pada pilihan kita. Allah
menyediakan dua jalan, kekafiran, atau keimanan. Hanya kita yang mampu memilih
mana jala kita. Anda ingin kafir atau ingin beriman? Pilih salah satu. Tidak
bisa keduanya! Apakah anda pernah merenung lalu menyadari dan malu betapa
mereka saudara kita di gaza mampu menghapalkan al-Quran meski dalam keadaan
perang? Apakah pernah kita menyadari bahwa dalam situasi itu tetap saja mereka
masih meikirkan saudara mereka yang di luar sana, yang juga menderita, di
rohingya. Mereka bukan orang yang merasa so’ paling menderita lalu mengupdate
status “kenapa sih begini?”, “hatiku tercabik-cabik”, “teganya kau begitu”. Oh
tidak. Itu bukan mereka. Perntanyaannya, kita di mana? Kita bagaimana? Banyak
orang yang sinis mencibir, “alah, mikirin yang jauh. Noh sono, di negeri
sendiri aja bayak yang nggak kalah melarat”. Loh? Emang bener. Saya juga nggak
salahkan pernyataan itu. Tapi cobalah lihat. Orang yang tadi bicara seperti itu
apakah sudah bebuat sesuatu juga untuk negeri ini?
Back to
topik. Bobroknya moral anak negeri negeri memang ngeri. Saat kebenaran malah
menajadi keanehan. Saya mmeiliki seorang keponakan yang “kata” ortunya selalu takut
melihat perempuan berkerudung. Jadi si ortu bilang, “lepas aja dulu kerudungnya
teh, nanti si dede takut. Biasanya langsung takut tuh lihat orang pakai
kerudung”. Saya kaget, bengong. “loh, kok malah takut. Kalau gitu justru
harusnya dibiasakan aja lihat. Jadi nggak takut”, sahut saya. Benar tho? Kita
jangan malah mendukung dan terus “menfasilitasi” anak-anak kita untuk jauh dari
nilai agama.
Sudah
berbusa mulut saya? Apa point penting pembahasan kali ini? Halo...? ayo mulai
sekarang perbaiki diri kita. Sebagai generasi muda, apa yang telah kita berikan
pada bangsa ini. Saat ini tidak meungkinkan lagi kita berperang memegang bambu
runcing denga ikat kepala lalu berlari dengan pekik merdeka membabat habis
penjajah. Malah timbul pertanyaan lagi, beranikah kita seperti itu? Beranikah
kita berjuag untuk membela bangsa habis-habisa? Beraikah kita bertaruh nyawa
sementara berdisipli diri saja kita tak mampu? Berkorban waktu untuk ibadah
saja kita tak mau. Menyempatkan diri mengkaji islam saja kita ogah-ogahan.
Berani? Kalau untuk diri sendiri saja tak ada hal berarti yang kita lakukan,
bagai mana dengan negara? Hallo? Silahkan dijawab.
Setiap
pribadi itu pada dasarnya punya titik baik loh. Ah, ayolah sadar. Bangkit,
bangkit, bangkit!
Perubahan
di tangan kita Bro, Sist. So, mari berbuat sesuatu untuk negeri ini. Kita
adalah bagia dari dunia dan dunia akan
ada di genggaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar