Kematian


Bocah kecil itu dengan penuh rasa penasaran mengintip dari balik tabir. Matanya menatap penuh tanda tanya. Sejenak kemudian ia berlari pada ayahnya. Lelaki yang berusaha sekuat tenaga membendung bulir-bulir air mata di pelupuk matanya yang berkantung. Sudah tiga hari tiga malam ia berjaga, tidak tidur barang sedikit pun demi menemani seorang wanita yang tengah berjuang melawan sejuta rasa sakit di tubuhnya. Dan tibalah pagi itu saat semua rasa sakit itu hilang.
“Pak, kenapa mamak dimandikan? Kok nggak mandi sendiri?” ia duduk di tengah kaki ayahnya yang bersila. Hanya usapan tangan yang menjawab tanya itu.
***
“Pak, mamak diapain?” matanya menatap heran pada sekelompok wanita yang sibuk membungkus tubuh ringkih sang ibu. Benaknya menerawang pada deretan memori sinetron-sinetron bertema kematian.
“Pak, mamak kok kayak yang di tipi-tipi?”
Lagi, hanya belaian yang ia rasakan.
***
“Mamak mau dibawa ke mana, Pak?”
Benda setengah tabung dengan empat penyangga di setiap ujungnya itu membawa sang ibu pergi. Bocah itu masih terdiam. Ia sesekali tersenyum dan tertawa.
***
“Pak, kenapa mamak dikubur?”
Tanah mulai menutupi lubang setinggi dua meter itu.
“Kok mamak ditinggal sendirian, Pak? Kan kasian....” tanyanya lagi.
***
Bocah itu, ia masih belum paham akan segala yang terjadi. Tubuhnya masih lincah bermain. Sesekali tertawa lepas, tanpa beban.
“Pak, kalau mamak sudah sembuh nanti kita jemput  ya? Kasian mamak sendirian.” Ia kembali bermain.
Suatu saat nanti kutahu pasti ia akan mengingat saat itu. Dan berurai air mata. Mengenang kenangan indah yang entah berapa persen masih ada di benaknya.
***

Aku tidak tahu kapan kematian datang menjemputku. Yang kusadar, tidak banyak amal yang sudah kulakukan. Masih sangat kurang untuk menjadi bekal di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar