Sepenggal Kisah


Kondisiku dulu tidak semiris Laskar Pelangi. Namun cukup membuat mereka terkejut. Entah memang miris versi mereka ataukah mereka yang berada di tempat yang sangat terfasilitasi.
Dosen yang selalu menggunakan LCD. Tidak ada itu di sekolahku. Hanya sesekali kali melihatnya saat ada sosialisasi dari para mahasiswa yang KKN. Atau dari puskesmas setempat yang memberi penyuluhan berbagai penyakit. Mereka terkejut. Tentu, setiap hari mereka belajar dengan itu di sekolah.
Kawan-kawanku dari sekolah ‘yang tidak biasa’. Bebrapa di antara mereka lulusan sekolah terbaik. Beberapa memenangkan cerdas cermat tingkat provinsi. Dengan kawan sekitar tiga puluhan di setiap kelas. Bahkan setiap kelas berjumlah tujuh. Dari A-G. Aku hanya terus ber’wow’. Decak kagumku tak mampu kubendung. Kontras sekali denganku hanya hanya memiliki sati kelas dengan tiga belas siswa  saja. Jika mereka seringkali pulang sekitar pukul 03.30 atau lebih karena adanya kegiatan ekstrakulikuler, maka tidak denganku. Harus kuakui kami sering pulang awal. Sekitar pukul 12.00.  sebelum itu pun cukup sering.  Bukan apa-apa. Guru tidak datang mengajar. Mungkin jarak yang cukup jauh memaksa mereka  tidak berbagi ilmu hari itu.
Aku iri. Mereka semua berorganisasi di sekolah. Ada Rohis, PMR, PA, OSIS yang aktif berjalan. Sedang aku? Tidak ada Rohis. OSIS tidak begitu aktif. Aku paham.  Bagaimana mungkin akan aktif sementara pengurus  dan anggota itu-itu saja. Dengan jumlah siswa kelas 1,2, dan 3 yang tidak mencapai lima puluh orang tidak banyak yang bisa kami buat. Hanya terbatas classmeeting dan pertandingan persahabatan yang berjalan sekedarnya.
“Kenapa tidak masuk IPA saja?”
Pertanyaan itu terlontar dari mulut dosen pembimbingku. Ia pasti kecewa melihat IP-ku yang hanya kurang 0,7 lagi agar dapat mengambil 24 SKS.
“Tidak ada jurusan IPA,Pak. Yang ada hanya IPS.” Kuharap ia mengerti.
Aku sudah berusaha. Berusaha untuk keluar dari tempurung. Setengah mati menyesuaikan diri dengan kawan-kawan lain. Berusaha dengan jujur atas kemampuanku sendiri.
Aku ingin berteriak. Beberapa dosen tidak peduli. IPA atau IPS. Pukul rata. Apakah IPS di bayangan mereka pun selalu sama? Kawan lain memang beberapa dari IPS. Tapi coba lihat. Tak bolehkah aku iri pada mereka yang diajar oleh guru-guru yang sudah S1? S2?  Ada pula yang langsung oleh orang luar negeri. Pelajaran merkea berlangsung full. Jika ada guru yang tidak datang, guru lain menggantikan. Guru mereka terseleksi. Tidak ada mata pelajaran yang diloncat-loncat. Semua terstruktur. Fasilitas mereka memadai. Ah, aku benar-benar iri.
Andai, andai, dan andai...
Terkadang kata itu muncul di benakku. Hingga akhirnya seseorang menyadarkanku bahwa itulah godaan syetan. Membuat manusia menyesal dan terpuruk. Apakah dengan melihat ke belakang dan menyesal maka semua akan berubah? Tidak. Saat ini kau butuh bangkit. Bayar hutang-hutangmu pada orang tua.
Jika kuperkirakan, anggaplah umi abi mentransfer satu juta per bulan. Ini bellum termasuk biaya dadakan lain. Dikalikan dengan perkiraan masa kuliahku selama 4 tahun, maka
1 jt x 12 bln x 4 = 48 jt
***
Aku tahu, mimpi adalah hak semua orang. Maka biarkan ku tetap bermimpi. Hanya dengan mimpi aku dapat terus berharap dan tersenyum.
Setiap kali terpuruk, kisah-kisah motivasi cukup menajdi suplemen penambah energi. Ada satu kisah. Tentang ketua BEM yang bahkan mendapat IP  nol koma. Tapi ia bangkit dan berusaha. Kini kakinya telah terjejak di seluruh penjuru negeri.
Perbaikan diri adalah hal yang amat penting. Bukan saatnya aku menyesal atas pilihanku di masa lalu. Karena setelah kupikir, kumiliki banyak guru luar biasa di sana. Yang mengajar dengan hati. Yang berdedikasi. Mengabdikan diri. Berbagi ilmu dengan tulus. Menyayangiku. Memberikanku doa-doa mujarab. Guru-guru luar bias yang tak akan kulupakan.
Satu tanya bergelayut di benak ini. Tak adakah dosen seperti itu? Mereka bilang, “kalau dosen seperti guru, maka bukan dosen namanya. Dosen itu ya seperti itu. Membuat takut dan cenderung cuek.”
***
Tanpa sadar hari-hari memang berjalan cepat. Aktivitas yang penuh. Tidak ada waktu bersantai.  Dari ahad, eh ternyata sudah kembali ahad lagi.
Aku ingin berarti banyak bagi orang lain. Aku ingin berubah. Mengurangi tawaku. Namun tanpa menguragi kebahagiaan yang harus kuciptakan demi terwujudnya kesuksesan. Aku harus tetap tersenyum.
Manusia memiliki berjuta pilihan. Tetapkan. Lalu konsisten dan bertanggung jawab. Itu harus dilakukan.
Menyerahkan semua pada Allah. Aku menajlankan prosesnya. Menganggapnya indah agar tak membebaniku. Menikmati alur demi alur kehidupan. Saat aku tersungkur ya Allah, bantulah aku tuk bangkit dan berdiri. Mulai berjalan lagi. Untuk sampai pada satu titik puncak. Mimpi.
Hidup adalah perjuangan. Dan kegagalan adalah bukan saat kita terjatuh. Melainkan saat kita tidak mau lagi bangkit dan berusaha.
                                                                                                Pagi yang cerah, 25 Feb 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar