Inilah prosesku


Musuh terbesarku hingga saat ini adalah rasa malas. Ia melenakanku di zona nyaman. Membuatku terlelap. Saat tersadar, telah banyak waktu terlewati. Sia-sia hidup ini. Setiap detik dengan ridha-Nya adalah ibadah. Lihat betapa ruginya.
Kemarin kukatan setiap orang terlahir dengan keistimewaan. Maka hari ini kukatakan setiap orang memiliki masalah sendiri sesuai kadar kemampuannya. Terkadang kuberpikir, sungguh besar masalah yang ia hadapi. Selanjutnya kusadari, maslaah itu ditetapkan Allah sesuai kemampuannya.
Semakin tinggi kadar ujiannya, semakin tinggi potensi derajatnya akan meningkat. Kusadari hal itu. Perubahan tingkat itu butuh proses dan ujian sebagai seleksi pantas atau tidaknya kita memasuki level itu. Jadi, hadapai setiap cobaan penuh rasa optimis. Khusnuzhan pada Allah. Ia pasti ingin mengangkat derajat kita hingga memberikan cobaan sedemikian rupa.
Sebagai hamba yang lemah, terkadang kuingin kembali ke masa lalu dan emperbaiki kesalahan yng pernah terjadi. Namun Allah menyadarkanku, justru dari sanalah aku belajar. Untuk tidak terjatuh lagi dan belajar bagaimana cara keluar dari kondisi itu. Sebuah ibrah yang selalu menajdi kenangan meski tak jarang ia berasa pahit.
Meluhat masa kini dan akan datang. Tak adil kumenilai seseorang dari masa lalunya. Sebagimana kuingin menatap masa depanku, mereka pun pasti demikian. Masa lalu adalah bagian dari sejarah. Tataplah jalan yang membentang di hadapanmu.
Tiap detik yang kujalani adalah proses perubahan. Melawannya dengan perjuangan.
Jarak yang jauh ini semakin menyadarkanku hakekat cinta sejati, persahabatan, jalan dakwah, ukhwah yang ternyata begitu indah kurasakan. Tak pernah hidupku seberwarna ini. Maka harapanku, semoga ia tetap berwarna-warni.
Cobaan yang terasa semakin berat saja. Azzamlah yang menguatkanku. Mungkin harus ada alarm yang memberi peringatan padaku akan orang tua yang telah berkorban banyak tanpa perhitungan. Cinta mereka yng sedemikian besar dan belum mampu terbalaskan.
Mimpi-mimpi masih tergantung kokoh di langit mimpiku. Entah mana yang akan terwujud lebih dahulu. Tugasku sekarang hanya berusaha dan terus berusaha. Biarlah Allah memilihkan yang terbaik.
Rasa lelah yang terkadang menyergap, ia adalah bumbu yang menyedapkan.
Istiqomah. Salah satu hal yang begitu ingin kuwujudkan. Disiplin diri yang pastinya akan membawa kemajuan untuk masa depan gemilang.
Hidup harus berjalan melawan arus. Dan aku harus mampu bertahan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar