“Ukh, anti ada pesan nggak untuk ana?” ia
menyodorkanku buku catatan miliknya.
Sejenak aku terdiam. Yah, ini saatnya. Ternyata aku
tidak perlu mengawali ini. Ia yang memulai. “Oh, ada. Pastinya.” Kuraih buku
biru tua bermotif batik itu.
Tak perlu lama untuk memikirkan apa yang harus
kutulis. Semua telah terkonsep sejak lama. Hanya saja kurasa sedikit harus
mengubah bahasanya menjadi lebih halus.
Ukhtifillah...,
jika ada dua sisi dan engkau berada pada salah satunya, maka jangan pernah
menilai sisi lain itu baik/buruk sebelum engkau mencoba berdiri di sana.
Mungkin
kita warna yang berbeda. Akan tetapi sangat tidak adil jika kita menilai warna
lain tidaklah indah. Sadarilah kita bagian dari pelangi. Sebuah pelangi yang
terdiri dari bermacam warna. Kita adalah, PELANGI.
Aku tersenyum sesaat sebelum mengembalikan buku itu
padanya.
“Mmmm, ana nggak ngerti ukh. Maksudnya apa ya?”
Pertanyaan itu hanya kujawab dengan sebuah senyuman
tulus persaudaraan. Berharap suatu saat ia akan paham dan mengerti. Dan masih
menganggapku bagian dari warna pelangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar