A Story


Pernahkan kalian berada di satu titik jenuh kehidupan di mana kalian bertanya pada diri sendiri untuk apa sebenarnya kita hidup di dunia? Apa hakekat kebahagiaan yang sesungguhnya? Mengapa ia seringkali datang lalu berlalu kembali? Dan apa yang harus dilakukan untuk meraihnya?
Kucoba untuk mulai mencari dan terus mencari cara paling tepat. Dan satu-satunya cara bagiku kini adalah memberikan hidup ini untuk-Nya.
Ia begitu indah. Mengapa kesadaran ini baru  muncul sekarang. Ketertarikan yang luar biasa membuatku “terjebak” di jalan yang bagi sebagian orang addalah salah.
Aku salah. Aku tahu setiap kali ku terlalu mencintai sesuatu, suatu saat aku akan membencinya. Dan itu benar. Berbagai dalih dan alasan ku mencela jalan yang telah kupilih. Menganggapnya sangat-sangat salah. Menganggapnya tak sesuai logika berpikirku. Dibenarkan pendapat beberapa orang yang kala itu embela argumen ini. Hingga akhirnya, enttah, ku berpikir, “bagaimana jika ini emosi sesaat?”, “bagaimana jika aku salah?”, “haruskah aku bertahan?”. Allah, dengan cara tertentu aku bertahan. Melawan kebimbangan yang muncul setiap beberapa waktu. Menuntutku untuk meninggalkan semua ini. Namun hati kecilku berontak. Memintaku bertahan. Ya, aku takut. Takut ini pun hanya emosi sesaatku.
Beberapa kali lisanku tak sejalan hatiku. Tapi sebisaku hanya membicarakan ini pada orang-orang terpercaya. Salah satunya Abi.
“Apa ini salah ya, Bi?”
“Ini kok rasanya nggak sesuai logika ya, Bi harusnya begini kan? Bla, bla, bla.”
Hanya bebrapa dari awalku berargumen. Berharap ia emmebrikan jawaban yang mendukung kebimbanganku. Aku salah. Ia menajawab jauh dari harapan. Kecewa di sudut hati ini. Tadinya ku harap ia mendukung argumenku. Dengan begitu segalanya akan menjadi lebih mudah. Mudah bagiku mengambil keputusan di antara dua pilihan.
Minggu berlalu. Aku tahu, semua bergantung padaku. Lalu bermohonlah aku pada Allah. Mengharap sangat agar Ia memberiku petunjuk.
Waktu berlalu cepat. Tak butuh waktu lama. Ia menjawab. Melalui sebuah kejadian yang kusadar itulah jawaban. Kini ku sudah sanggup memilih? Tidak kawan. Setan apakah yang merasukiku? Meragukan jawaban itu.
Lagi, kuberharap akan ada petunjuk yag kedua. Dan terjawablah. Jawaban yang kusadari. Ah.... hatiku mengeras. Lagi-lagi meragukannya.
Kupinta petunjuk ketiga. Tiga. Bilangan ganjil. Tiga. Jumlah yang cukup untuk menepis keraguan bahwa semua itu adalah kebetulan. Tiga. Akan meyakinkanku.
....
Terjawab.
Dengan segala petunjuk itu aku menangisi parahnya hatiku. meragukanNya. Meragukan petunjukknya. Lihat! Betapa Allah ingin aku bertahan di sini. Pantaskah kupinta lebih lagi? Pantaskah kutepis segala bukti kebenaran yang perlahan tercuat?
Kuputuskan tetap berada di jalan ini. Meski satu per satu kawan berguguran, aku harus tetap bertahan. Maka seretlah aku kembali ya Allah, jika aku berada pada jalan kebimbangan.
Terima kasih abi. Membuatku bertahan.
Melihat mereka aku tersenyum. Itulah aku saat berada dalam kebimbangan. Menepis segala kebenaran. Aku sombong. Aku sombong karena aku menolak percaya kebenaran. Aku memberikan dalil yang membenarkan argumen abu-abuku. Menambahkannya dengan logika. Mengingat semua itu aku ingin menangis. Aku, mencintai jalan yang kupilih tanpa dasar yang jelas. Lalu aku membencinya karena ketidakjelasan itu. Dan aku kembali padanya setelah mendapat kejelasan. Mencintai lagi jalan ini.
***
Teruntuk saudara-saudara seperjuanganku. Janganlah memutuskan suatu hal karena emosi sesaat. Pertahankan diri di jalan yang kau tempuh untuk bebrapa lama. Lalu saat emosi itu  mereda, cobalah berpikir positif. Meminta petunjuk akan jalan yang pantas kau pilih.
Jangan pernah mendengarkan ucapan orang lain mengenai sesuatu sementara ia sendiri tak pernah benar-benar mengenalnya. Cobalah untuk terjun di dalamnya dan gali sendiri apa yang ingin kau dapatkan. Bersikaplah adil dalam menilai.
Mari kita bersama mencoba memperbaiki diri menuju jalan yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar