Pernahkan
kalian berada di satu titik jenuh kehidupan di mana kalian bertanya pada diri
sendiri untuk apa sebenarnya kita hidup di dunia? Apa hakekat kebahagiaan yang
sesungguhnya? Mengapa ia seringkali datang lalu berlalu kembali? Dan apa yang
harus dilakukan untuk meraihnya?
Kucoba
untuk mulai mencari dan terus mencari cara paling tepat. Dan satu-satunya cara
bagiku kini adalah memberikan hidup ini untuk-Nya.
Ia
begitu indah. Mengapa kesadaran ini baru
muncul sekarang. Ketertarikan yang luar biasa membuatku “terjebak” di
jalan yang bagi sebagian orang addalah salah.
Aku
salah. Aku tahu setiap kali ku terlalu mencintai sesuatu, suatu saat aku akan membencinya.
Dan itu benar. Berbagai dalih dan alasan ku mencela jalan yang telah kupilih. Menganggapnya
sangat-sangat salah. Menganggapnya tak sesuai logika berpikirku. Dibenarkan pendapat
beberapa orang yang kala itu embela argumen ini. Hingga akhirnya, enttah, ku
berpikir, “bagaimana jika ini emosi sesaat?”, “bagaimana jika aku salah?”, “haruskah
aku bertahan?”. Allah, dengan cara tertentu aku bertahan. Melawan kebimbangan
yang muncul setiap beberapa waktu. Menuntutku untuk meninggalkan semua ini. Namun
hati kecilku berontak. Memintaku bertahan. Ya, aku takut. Takut ini pun hanya
emosi sesaatku.
Beberapa
kali lisanku tak sejalan hatiku. Tapi sebisaku hanya membicarakan ini pada
orang-orang terpercaya. Salah satunya Abi.
“Apa
ini salah ya, Bi?”
“Ini
kok rasanya nggak sesuai logika ya, Bi harusnya begini kan? Bla, bla, bla.”
Hanya
bebrapa dari awalku berargumen. Berharap ia emmebrikan jawaban yang mendukung
kebimbanganku. Aku salah. Ia menajawab jauh dari harapan. Kecewa di sudut hati
ini. Tadinya ku harap ia mendukung argumenku. Dengan begitu segalanya akan
menjadi lebih mudah. Mudah bagiku mengambil keputusan di antara dua pilihan.
Minggu
berlalu. Aku tahu, semua bergantung padaku. Lalu bermohonlah aku pada Allah. Mengharap
sangat agar Ia memberiku petunjuk.
Waktu
berlalu cepat. Tak butuh waktu lama. Ia menjawab. Melalui sebuah kejadian yang
kusadar itulah jawaban. Kini ku sudah sanggup memilih? Tidak kawan. Setan apakah
yang merasukiku? Meragukan jawaban itu.
Lagi,
kuberharap akan ada petunjuk yag kedua. Dan terjawablah. Jawaban yang kusadari.
Ah.... hatiku mengeras. Lagi-lagi meragukannya.
Kupinta
petunjuk ketiga. Tiga. Bilangan ganjil. Tiga. Jumlah yang cukup untuk menepis
keraguan bahwa semua itu adalah kebetulan. Tiga. Akan meyakinkanku.
....
Terjawab.
Dengan
segala petunjuk itu aku menangisi parahnya hatiku. meragukanNya. Meragukan petunjukknya.
Lihat! Betapa Allah ingin aku bertahan di sini. Pantaskah kupinta lebih lagi? Pantaskah
kutepis segala bukti kebenaran yang perlahan tercuat?
Kuputuskan
tetap berada di jalan ini. Meski satu per satu kawan berguguran, aku harus tetap
bertahan. Maka seretlah aku kembali ya Allah, jika aku berada pada jalan
kebimbangan.
Terima kasih abi. Membuatku bertahan.
Melihat
mereka aku tersenyum. Itulah aku saat berada dalam kebimbangan. Menepis segala
kebenaran. Aku sombong. Aku sombong karena aku menolak percaya kebenaran. Aku memberikan
dalil yang membenarkan argumen abu-abuku. Menambahkannya dengan logika. Mengingat
semua itu aku ingin menangis. Aku, mencintai jalan yang kupilih tanpa dasar
yang jelas. Lalu aku membencinya karena ketidakjelasan itu. Dan aku kembali
padanya setelah mendapat kejelasan. Mencintai lagi jalan ini.
***
Teruntuk
saudara-saudara seperjuanganku. Janganlah memutuskan suatu hal karena emosi
sesaat. Pertahankan diri di jalan yang kau tempuh untuk bebrapa lama. Lalu saat
emosi itu mereda, cobalah berpikir
positif. Meminta petunjuk akan jalan yang pantas kau pilih.
Jangan
pernah mendengarkan ucapan orang lain mengenai sesuatu sementara ia sendiri tak
pernah benar-benar mengenalnya. Cobalah untuk terjun di dalamnya dan gali
sendiri apa yang ingin kau dapatkan. Bersikaplah adil dalam menilai.
Mari
kita bersama mencoba memperbaiki diri menuju jalan yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar