Harapan Semu


Pernahkah kita seperti ini?
Mengerjakan sebuah soal yang rumit. Tidak terlalu rumit sebenarnya. Tapi entah mengapa jadi terasa sulit. Ditambah lagi kurangnya minat untuk mengerjakannya. Jadi terasa semakin berat. Tinggallah jemari hanya menuliskan jawaban apa adanya, asal-asalan. Saat waktu sudah hampir habis, kita kelabakan. Jawaban jadi semakin membingungkan. Kita kerjakan ia penuh dengan daya upaya padahal awalnya begitu santai. Dengan PD merasa yakin jawaban itu benar. Dan di sudut hati terselip satu harapan, KEAJAIBAN. Keajaiban seperti apa? Bisa jadi berharap kebaikan hati penilai/guru/dosen. Berharap salah tulis. Berharap ada kebijakan lain. Bahkan berharap jawaban terganti dengan sendirinya (loh kok? Aneh).
Namun kenyataan menjawab lain. Nilai keluar dan hasilnya tidaklah seperti yang kita harapkan. Penyesalan pun datang bertubi-tubi. ‘andai saja dulu aku menjawab maksimal, pasti tidak begini hasilnya’. ‘andai saja waktu itu aku memaksimalkan kemampuanku’. ‘andai saja....’. inti  dari semua itu adalah harapan akan  kembalinya waktu. Percuma. Sampai kapan pun impian itu tak akan menjadi nyata.
Jangan putus asa. Beruntungnya, masih ada masa depan. Masa di mana Allah memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Ini adalah tebusan untuk penyesalan. Manfaatkan ia dengan sebaik-baiknya.
Lalu sahabat, pernahkah kita menyadari. Sesungguhnya hidup seringkali seperti itu. Sampai saat ini pun terasa sekali ia lebih sering seperti itu. Sadar lebih banyak waktu yang terbuang. Sadar kita terlalu santai menjalani hidup. Waktu kita semakin dekat. Sama dengan ujian tadi. Bedanya, saat ujian, kita mengetahui dengan pasti berapa durasi waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal. Kita pun mengetahui pasti sisa waktu yang dimiliki lantas baru bersungguh-sungguh. Bukankah hidup tidak demikian? Tidak ada yagn tahu kapan ajal menjemputnya. Tidak ada yang tahu berapa lama lagi ia hidup di dunia. Akhirnya rasa sombong itu muncul. Sebuah kepercayaan diri bahwa amal kita sudah cukup banyak. Ada harapan Allah Yang Maha Pengasih akan memberikan beribu ampunan untuk dosa-dosa yang tlah diperbuat. Tidak, tidak seperti itu. Akankah kita menyesal saat buku hidup itu tergenggam di tangan. Lalu tergambar nyata betapa kurangnya amal. Di hadapan Allah? Saat waktu tak mungkin lagi kembali? Saat tak ada kesempatan kedua untuk menebusnya? Tidak. Tidak. Jangan! jangan! kita tidak boleh seperti itu.
Hidup ini singkat. Hanya berlangsung sekejap mata. Mengapa kita hanya seperti ini? Lakukan sebuah perubahan demi kebahagiaan abadi di surga Allah. Sungguh ia adalah sesuatu yang nyata. Maka mari kita lakukan langkah nyata untuk meraihnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar