Sungguh
fakta yang tragis dan membuat hati menangis. Betapa tidak, seorang anak tega
memutilasi ibu kandungnya sendiri. Berawal dari kekesalan karena merasa
diperlakukan tidak adil hingga akhirnya ia nekat memukuli sang ibu dengan benda
tumpul lalu mengg*rok leher wanita yang telah bersusah payah mepertaruhkan
nyawa untuk melahirkannya ke dunia itu. Tidak berhenti sampai di situ. Dengan
tanpa hati ia memakan hati sang ibu. Dugaan sementara pelaku mengalami sakit
jiwa.
Istighfar
berulang kali.... Hati ini miris. Menjerit-jerit menyaksikan fakta negeri ini.
Tidak hanya negeri ini. Di luar sana bertebaran kasus-kasus serupa. Bahkan
mungkin jauh lebih kejam. Kisah ini hanya secuil dari banyaknya fakta.
Terlepas
ia mengalami sakit jiwa atau tidak, kasus ini membuat bulu kuduk merinding. Apa
yang salah dengan mental orang-orang seperti mereka. Jika memang benar adanya
dugaan sakit jiwa itu, terlihat betapa lemahnya iman di hati hingga tidak ada
kontrol diri. Seandainya setiap individu membentengi diri dengan iman dan
taqwa, maka kasus seperti ini tak akan tertoreh di lembar kelam sejarah
kriminal negeri kita.
Ia,
ibu, seorang wanita mulia. Namun berjuta pengorbanan tak terbayarkan itu
berbalas perbuatan keji buah hatinya.
Ada
yang berkomentar bahwa munculnya perbuatan keji ini kemungkinan bisa muncul
karena tidak ada bimbingan dari orang tua itu sendiri. Dan ada kemungkinan
ketidakadilan itu memang dirasakan oleh sang anak.
Tidak
penting lagi memunculkan dugaan-dugaan yang pada akhirnya hanya akan menjerumus
pada fitnah dan ghibah. Sebagai generasi muda dan penerus bangsa, ayo kita
sadari pentingnya membentengi diri dengan keimanan dan ketaqwaan yang kokoh.
Kita tentu tidak ingin berada di posisi korban mau pun pelaku.
Membimbing
anak dengan ilmu-ilmu agama yang mencerahkan adalah salah satu solusi yang
selayaknya dilakukan sejak saat ini. Jika kita remaja, mari terus giatkan
kajian keilmuan Islam dan menyebarkannya pada orang lain. Bukan senantiasa
hanya untuk diri sendiri. Tidak akan cukup waktu bagi kita untuk menjadi
sempurna karena manusia tempat khilaf dan salah. Sembari terus memperbaiki
diri, ‘seretlah’ orang lain bersama kita menuju jalan yang lurus.
Jika
kita oran tua, mari bentuk generasi yang bermental baja. Tidak cengeng hanya
karena virus galau merah jambu. Di luar sana berbagai tantangan menunggu untuk
ditaklukkan.
Apa
sih yang telah kita berikan untuk agama ini? Apa kita tidak malu menyaksikan
bocah-bocah kecil Palestina berperang dengan batu? Apa kita tidak malu
mendengar pertanyaan mereka yang mempertanyakan keberadaan kita ummat muslim?
Apakah pantas kita tidur nyenyak, mendengkur, dan bermimpi, sementara saudara
kita di luar sana memejamkan mata pun tak bisa. Apakah kita msih punya hati?
Apa kita tidak malu dnegan keadaan di mana dunia kita dikuasai orang-orang kafir?
Mereka seenaknya membantai saudara kita layaknya binatang. Di lain sisi, mereka
memanjakan kita dengan kesenangan duniawi. Membuat kita terus memikirkan materi
dan materi. Kesuksesan dunia seolah hal yang paling berharga. Sudah siapkah
kita jika waktu memanggil detik ini? Sadari itu!
Siapa
yang tak menangis melihat semua ini kawan? Siapa?
Saat
ini dunia tlah semakin gila. Ah tidak. Bukan dunia. Tapi penghuninya yang tak
tahu diri. Saya yakin dunia pun sudah muak dan ingin muntah. Marah, kesal,
melihat orang-orang yang menumpang terus berbuat kerusakan. Ia pun pasti
menangis.
Ummat
muslim ibarat satu tubuh. Jika ada anggota tubuh yang terluka, anggota tubuh
yang lain akan merasakannya.
Setiap
hari, kabar terbaru bermunculan. Menyajikan fakta menguras air mata.
Kepala-kepala yang hancur karena kebiadaban. Tubuh yang terkoyak. Tangis dan
jerit mereka memenuhi ruang dunia. Masihkan kita menutup mata dan telinga?
Jadilah
sahabat Rasulullah yang tetap memegang teguh
ajaran beliau meski kita sama sekali tak pernah berjumpa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar