Untuk Kalian


Aku marah, benci, kesal. Aku benci pada mereka. Hampir setiap kali brwosing selalu ada kabar terbaru tentang kekejaman mereka pada saudaraku di luar sana. Mereka pikir mereka Tuhan yang berhak mencabut nyawa manusia?
Tapi aku bertanya kemudian. Apakah semua emosi itu akan menghilangkan penderitaan saudara-saudaraku? Tidak. Butuh langkah nyata. Sebuah action.
Kini aku bertnaya pada diriku sendiri. Kemana aku selama ini? Bukankah mereka bertanya, “Di manakah kalian wahai ummat muslim. Di mana?”. 
Aku akan menjawab apa? Aku di sini. Selama ini tanpa berbuat apa pun. Aku malu. Maafkan kami wahai saudaraku. Jika kami beraada di posisi kalian, aku berpikir, sanggupkah kami? Dan sanggupkah kami tidak marah menyaksikan saudara-saudara seiman di luar sana hanya berdiam diri? Hanya merutuk kekejaman mereka. Hanya mengucapkan sumpah serapah. Hanya memperbincangkan penderitaan ummat muslim. Hanya membuat gerakan yang seolah peduli tapi sebenarnya tidak berarti. Apakah kami sanggup?
Di sini. Kami berada di zona nyaman saudaraku. Tanah di mana tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman. Tapi kalian di sana? Tanah di mana kenyamanan menjadi hal remang-remang. Bahkan ia pun barangkali tlah musnah. Tanah di mana tongkat kayu dan batu kalian ubah menjadi senjata mematikan. Memukul mundur para pengecut yang selalu bermodal senjata api, bom, tank-tank, dan senjata canggih lainnya.
Aku tahu. Kami harus bangun. Dari tidur panjang yang melenakan. Tidur, sementara kalian terus terjaga.
Tunggulah. Tunggu kami. Dari sejumlah orang yang terbangun, kami akan berlari untuk kalian. Meski bukan dengan perang yang nyata. Tapi berdoalah. Semoga ini dapat menjadi senjata yang paling ampuh. Membungkam mereka.
Bukan hanya Palestina, tapi untuk semua saudaraku yang tertindas di luar sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar