Haruskah Dia?

Salahkah jika saya bertanya kenapa harus FSL? Remaja yang baru saja memenangi sebuah ajang penuh konspirasi dan kini menghebohkan dengan dukungannya terhadap kedatangan Miss Word. Lembaga agama yang dulu mengiriminya sebuah surat dukungan pun kecewa. Kata mereka, “padahal FSL menang karena sesuatunya”.
Lha jelas saja. Ajang itu penuh konspirasi Yahudi, merusak mental ummat muslim, melenakan, menghancurkan akidah!!!!  Penyanyi International pun langsung mendukungnya. Memangnya wajar? Berapa banyak ajang  di mana pesertanya menyanyikan lagu pemusik-pemusik luar negeri dengan suara yang ‘wow’? tak terhitung kan? Tapi lihat! Toh tak ada reaksi seperti pada FSL. Di mana bedanya. Wah... kalau begitu lihat pada apa yang paling menonjol dalam diri remaja kita ini. Katanya ia punya sesuatu yang ‘beda’. Katanya ia adalah ‘sesuatu’. Beberapa pihak memintanya tetap menjaga ‘sesuatu’ itu. Tak meninggalkan ‘sesuatu’ itu meski ia sudah semakin tenarrrrrr.
Hasilnya? ‘sesuatu’ itu tetap ia pertahankan. Tapi selanjutnya apakah sesuatu itu membuatnya berbeda dengan penyanyi lain? Tidak!!! Tanpa beda. Kini citra akan ‘sesuatu’ itu pun rusak. Seorang yang identitasnya  muslimah, memakai sesuatu, tapi mendukung kedatangan Miss Word.
Lantas bagaimana kalau FSL mencabut dukungannya?
That’s good. Tapi tidak serta merta memperbaiki citra akan ‘simbol’ seorang muslimah itu. Pantaskah seorang muslimah bertingkah laku seperti itu? Berlenggak lenggok di atas panggung, tabarruj, lagu-lagu tidak islami, de el-el silahkan anda identifikasi sendiri.
Mau jadi apa bangsa ini jika terus begini? Remaja terlalu berada di atas zona nyaman? Bahkan mungkin melihat video pembantaian saudara-saudara kita di Suriah pun mereka masih bisa tertawa. Nurani bangsa mati!
Maaf kalau saya terlihat emosi kawan. Tapi sungguh, tulisan ini saya tulis dengan penuh pikiran. Tidak semata-mata dengan emosi. Hanya lelah. Saya hanya lelah melihat kondisi ini. Fakta di depan mata begitu menyakitkan. Barangkali kita harus diserang dulu oleh orang-orang kafir. Sebuah perang. WAR. Barulah kita akan sadar.
Saya bertambah kecewa. Sungguh saya kecewa. Media yang saya anggap sebagai media dakwah, dengan ikon muslimah (baca : akhwat) malah mengambilnya sebagai model. Bertanya dengan ma’ruf sudah saya lakukan. Entah apa jawabannya. Entah ada alasan  atau pertimbangan lain. Saya tidak tahu. Well, mencoba berkhusnuzhan. Mungkin ini dan mungkin itu.
Jika kau masih punya hati kawan, marilah kita bersama berjuang. Ummat ini butuh sebuah perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar