Apa
yang terpikir di benak kalian melihat realita di negeri ini? Mengapa kemaksiatan
masih berceceran di mana-mana sedangkan seperti yang kita tahu, orang sholeh,
yang paham agama, yang berilmu, mereka pun ada di sekitar kita. Mengapa kemiskinan
dan kesengsaraan masih bertebaran di penjuru negeri ini? Sementara itu tidak
dapat dipungkiri indonesia adalah negeri dengan sumber daya alam berlimpah. Orang
Indonesia menuntut ilmu di luar negeri. Berlomba-lomba kuliah, mendapat gelar
tinggi.
Kawan,
apakah saat kita merasa diri ini sudah beriman dan bertaqwa, itu sudah cukup? Apakah
dengan rajin shalat (baik fadh mau pun sunnah) saja, tidak alpa membayar zakat
fitrah dan zakat maal, puasa wajib dan sunnah, bahkan naik haji, semua itu
sudah cukup menjadikan kita seorang muslim kaafaah?
Ibadah,
dalam islam, tidak boleh diartikan secara sempit hanya berkisar ibadah mahdhah
saja. Ibadah merupakan setiap aktivitas manusia yag dilakukan semata-mata
karena Allah. Jadi dalam setiap aktivitasnya, baik itu shalat, zakat, puasa,
naik haji, bekerja, bergaul, berekonomi, dan berpolitik, di mana semua itu
merupakan ibadah, seseorang hendaknya melaksanakan sesuai dengan apayang telah
tertulis di dalam al-Qur’an :
Hai orang-orang yang beriman,
masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhan (TQS al-Baqarah 2:208)
Amat
sangat disayangkan sekali, seorang yang mengaku muslim, hanya menjadikan
al-Quran sebagai pajangan di lemari rumahnya. Atau hanya sebagai tanda untuk
memperlihatkan pada orang lain bahwa ia seorang muslim. Yang lainnya pun sangat disayangkan. Lisan tiada henti
melantunkan ayat suci al-Quran di pagi dan petang, tanpa dipahami dan
dimengerti, tanpa membumikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tengoklah
betapa membanjirnya pelatihan-pelatihan dan buku mengenai shalat, zakat, puasa.
Bagaimana cara shalat yang khusyuk, manfaat berzakat, keutamaan berpuasa di
bulan ramadhan. Membanjir pula masyarakat yang naik haji hingga kuotanya tak
cukup. Mereka harus antri menunggu tahun demi tahun. Ummat islam sibuk membahas
masalah seperti itu. Mengutamakan perbaikan individu tanpa melihat fenomena
saat ini, di mana permasalahan ummat sangat pelik. Ummat butuh sebuah
perubahan.
Bukan
berarti saya melarang semua itu. Hanya saja, ayolah kita sadari, perbaikan
individu itu penting. Tapi sampai kapan kita menunggu diri ini sempurna
beribadah, baru setelah itu kita berdakwah pada orang lain dan memperbaiki
kondisi ummat. Sampai kapan? Sementara manusia adalah tempat khilaf dan salah. Manusia
tidak akan pernah sempurna. Akan ada saja kekurangan-kekurangan dalam diri kita. Oleh sebab itu mari, sembari
memperbaiki diri, perhatikan dan berperanlah mengubah kondisi yang begitu memprihatinkan
ini.
Ingin
menjadi muslim kaaffah? Maka lakukan apa yang diperintahkan Allah, tanpa
terkecuali.
Sadar
tidak perintah Allah di dalam al-Quran?
Dan Kami wajibkan manusia
(berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu
untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang
itu, maka jangalah kamu mengikuti keduanya. (TQS al-Ankabut 29:8)
Wah,
sudah dilaksanakan kawan?
Alhamdulillah
sudah. Kan wajib tho? Tahu sendiri kan balasan durhaka kepada orang tua?
Lalu
firman Allah lagi di dalam al-Quran :
Ini (adalah) satu surah yang Kami
turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang
ada di dalamnya) nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar
kamu selau mengingatinya. Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina,
maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (TQS an-Nuur
24:1-2)
Sudah
dilaksanakan?
Belum
? Bukannya perintah Allah sama? Kita diwajibkan bukan?
Mengapa
kita mengamalkan ayat pertama secara sempurna sementara ayat kedua, kita mengingkarinya.
Jangankan diamalkan, bahkan membahasnya di dalam pengajian atau pun ta’lim saja
belum tentu. Apa yang salah? Jujur kepada diri sendiri. Apakah kita termasuk
orang yang memilih dan memilah ayat yang dianggap tidak berisiko, lalu
diamalkan, sedangkan ayat yang penuh resiko ditinggalkan begitu saja.
Bukankah
Allah telah memberikan peringatan untuk tidak mengambil kesalahan sebagaimana
orang Yahudi?
Apakah kamu beriman kepada
sebahagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? (TQS al-Baqarah
2:85)
Inilah
yang salah pada kita. Mengambil sebagian lalu meninggalkan sebagian yang lain. Sebenarnya
apa yang kita takutkan? Pantaskah sebagai seorang hamba, kita mengabaikan
perintah allah dengan berbegai dalih dan alasan.
Simak
ayat berikut ini kawan,
Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa, (TQS al-Baqarah 2:183)
Alhamdulillah,
begitu banyak ummat muslim menyadari kewajiban ini. Bulan puasa bulan yang
penuh berkah. Ummat muslim berlomba-lomba beribadah.
Tidak
ketinggalan ayat berikut ini
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan
atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka
dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. (TQS
al-Baqarah 2:178)
Tapi
apakah sudah diamalkan? Bukankah redaksinya sama?
Yaa
ayyuhalladziina aamanuu, kutiba ‘alaikum
Astaghfirullaahaladzim...
Perintah
dari Allah adalah sesuatu yang mutlak. Tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bukan al-Quran
yang harus sesuai dengan kondisi zaman. Tapi manusianyalah yang harusnya
menyesuaikan diri, selalu menyesuaikan diri dan berpegang teguh kepada firman
Allah dan sunnah Rasul.
Takut
kepada apa? Kepada AS? Takut kepada Penguasa? Tiada yang pantas kita takuti
selain Allah. Hanya kepada-Nyalah kita berlindung. Dia yang menghidupkan dan
mematikan makhluk. Dia pula yang melimpahkan rizki tak terhitung jumlahnya.
Apakah
pantas manusia, makhluk yang lemah, tempat khilaf dan salah, mengambil hukum
selain hukum Allah, dzat Yang Maha Agung? Tidak. Apakah pantas kita terus
mengutarakan berbagai alasan untuk menghindar dari kewajiban-kewajiban yang
telah dibebankan kepada kita, orang yang mengaku masih beriman? Jika kita masih
mengaku beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaaffah, secara menyeluruh. Untuk
kemaslahatan ummat, hukum Allah harus ditegakkan. Sang pemilik langit, bumi,
dan seisinya. Andai masih saja kita menikmati hukum selain hukum Allah,
silahkan cari tempat hidup yang baru, yang pasti bukan di bumi Allah.
Kembali
pada pertanyaan di awal. Mengapa kemiskinan, kesengsaraan, dan kemaksiatan
masih meliputi negeri ini? Jawabannya adalah, karena hukum Allah tidak
ditegakkan secara kaaffah. Ummat Islam, sebagian besar masih memilih dan
memilah ayat yang menguntungkan, tidak beresiko. Ummat islam, masih terlena
oleh empuknya hukum yang dibuat oleh manusia. Padahal jelas sekali, selalu
direvisi ulang. Bukannya itu sudah merupakan tanda ketidaksempurnaan hukum
manusia?
Ayo
kembali pada kitabullah dan sunnah Rasul. Dimana ada hukum syara’, di sana akan
ada maslahat. Jangan takut akan adanya berbagai konsekuensi. Konsekuensi dunia
dan dari manusia tidaklah sebanding dengan konsekuensi di akhirat, dari Allah. Semoga
dapat menjadi bahan renungan kita. Betapa tidak bersyukurnya kita atas nikmat
Allah. Betapa masih kurangnya ketaatan kita sebagai hamba.
Sumber : Beyond The
Inspiration
Ditulis
sebagai bahan renungan. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Semoga menjadi
sarana bermuhasabah diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar