CINTA
Jika
kita merasakan jengah dengan dakwah egois, muak dnegan dakwah yang sporadis,
atau sebal dengan dakwah yang membawa kebencian dalam menebr kebenaran, MELAWAN
DENGAN CINTA perlu kita renungkan.
KATA
Jika
kita terbata ketika menuturkan kebenaran, gemetar setiap kali berdiri di
hadapan, atau tidak mampu menyusun kata untuk mengguncang kesadaran, MELAWAN
DENGAN CINTA sangat kita perlukan. Ada banyak cerita teruntai, tentang retorika
Nabi, tentang pengalaman orang-orang panggung, atau pun tentang teori-teori
komunikasi, yang akan menuntun kita menjadi seorang penutur kebenaran yang
mampu menggugah manusia dengan untaian kata dan tatapan mata.
NYATA
Jika
dalam keseharian, kita sering kebingungan menghadapi obyek-obyek dakwah,
bagaimana menyentuh hatinya, bagaimana mengikat jiwa, dan bagaimana
menggerakkannya, MELAWAN DENGAN CINTA layak kita jadikan teman duduk. Di dalamnya
tersaji berbagai kisah rasulullah, para sahabatnya, maupun kisah keseharian
kita., tentang dakwah yang tak terlalu memerlukan kata, dakwah yang lebih fokus
pada ama-amal nyata dalam keseharian kita.
BERSAMA
Jika
dalam organisasi dakwah yang memayungi kita, kita tidak merasakan adanya
kesatuan langkah, sebagai pemimpin kita merasakan kesulitan ebrgerak dan
menggerakkan aanggota, sebagai anggota kita merasa tidak nyaman dengan gaya
kepemimpinan seorang ketua, MELAWAN DENGAN CINTA perlu menemani langkah bersama
kita.
(Melawan
dengan Cinta by Ust. Abay Abu Hamzah)
Sebuah catatan begitu menggugah dari
sebuah buku kecil sederhana, MELAWAN DENGAN CINTA. Kegetaran hati tak mampu
kusembunyikan. Betapa setiap kata amat sangat menghanyutkan. Kalimat meluncur
mendebarkan. Kebahagiaan, keharuan, kecintaan, basah dalam linangan air mata. Jalan
dakwah ini penuh liku-liku.
Suatu saat nanti, aku juga ingin,
mengubah dunia dengan pena. Setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan. Maka
semoga setiap gerak tubuh, lisan, dan siratan hati selalu dapat terjaga. Jadikan
lembaran putih dan tinta sebagai media. Dengan cinta, mengukir kata, meraih
ridha-Nya. Dengan cinta, aku bergerak. Dengan cinta, kulukiskan warna-warni
jalan ini. Jalan indah yang kupilih setelah serangkaian coba dan uji.
Tidak mulus memang. Nyatanya lebih
banyak lagi bebatuan di sini. Semak belukar berduri. Terkadang harus melawan
diri sendiri. Saat ego akan menguasai, iman datang membentengi. Kembali tegak
berdiri. Perlahan tapi pasti melangkah lagi. Tak peduli tubuh luka dan
tersakiti, asal iman masih terpatri dalam hati.
Uhibbukum fillah. Uhibbukum fillah. Uhibbukum
fillah. Jika suatu saat nanti kegilaan meradang, kuikhlaskan, kurelakan,
kupinta pada kalian, seretlah aku. Bahkan walau pun aku semakin meradang. Ikatlah
aku di sini. Jangan pernah biarkan ku pergi. Buka kembali memori, agar aku
kembali.
Uhibbukum fillah. Mencintai kalian
wahai saudaraku, karena Allah. Semoga cinta akan tetap menjadi cinta. Semoga cinta-Nya
menaungi kita dari terik yang membakar.
Bismillah...
perjalanan masih panjang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar