Syukur yang Tak Purna

Aku tak sanggup lagi menelan bulir-bulir nasi di hadapanku. Rasa lapar beberapa menit lalu menjelma kekenyangan, astaghfirullah. Betapa tidak, ini seperti untuk dua porsi. Sesal merasuk relung hati. Apakah aku termasuk orang yang mubazir? Kalau begitu, apakah berarti aku saudaranya se*an??? Naudzubillah!!!
Suap demi suap terakhir kugerakkan penuh terpaksa. Perlahan, berharap tak ada bulir tersisa. Sayang, aku tak sanggup lagi. Lauk pun tlah habis pula. Tersisa daun singkong hijau. Kelihatan segar. Tapi aku tidak bodoh. Pasti rebusan soda. Huft! Terasa agak pahit. Ah, bukan itu masalahnya. Rejekiku dari Tuhan hari ini tidak kusyukuri dengan baik. Perasaan bersalah menyusup. Di luar sana masih banyak, mereka yang bertubuh mungil, berbalut tulang, bingung harus makan apa.
Akhirnya bisa ditebak. Aku tak sanggup lagi. Kulipat lembaran coklat yang masih menyisakan empat atau lima suap lagi itu. Semoga ada makhluk lain di luar sana yang mendapatkannya agar tidak jadi mubazir. Bismillah.

Kusyukuri hari ini. Begitu banyak nikmat. Tak akan sanggup menghitungnya walau dengan mesin tercanggih sekali pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar