Sebuah
permintaan maaf tertuang tulus. Perasaan bersalah yang mencapai titik kulminasi
Maafkan
aku sahabat, jika kala itu ikatan kita
rapuh. Tatkala hati tanpa diduga harus berbagi. Tatkala hati menginginkan hati
yang lain utuh, miliknya.
Maafkan,
ia yang terkuasai. Merasa paling butuh dikasihani. Merasa tinggi. Ia yang
merasa so’ suci
Maafkanlah
sahabat, tiada yang kuperbuat ketika kau terjatuh semakin dalam. Barangkali karena
aku pun saat itu butuh pegangan. Engkau kulepaskan.
Duniaku
kabur. Abu-abu. Menghitam. Hampir tak ada cahaya. Tak kulihat letakmu. Terkadang
kupikir apakah ku memang tak mau tahu menahu. Saat kau jatuh, aku masih belum
sadar. Kegelapanku menjadi.
Kini
perlahan putih menjelang. Semakin putih. Kujemput cahayaku.
Aku
ingin mejadi lentera. Tapi engkau yang terjatuh tak dapat kuraih. Sesuatu mengikatmu.
Kau tak bisa lari.
Sahabat,
tahukah engkau, awal yang salah tak akan menjadi berkah. Ah, andai kujemput
cahayaku jauh lebih cepat. Andai langkahku jauh lebih cekatan darimu.
Mari
kita petik ibrah bersama. Syukurku bertubi-bertubi. Untukmu, semoga dapat
mengerti. Kurasa kau harus “mengulangnya”. Mengulangnya sekali lagi. Agar berkah
yang kau jalani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar