“Apa
kau pikir amat menyenangkan saat menjadi orang lain di dunia maya?”
“Entahlah.
Sejujurnya memang ada rasa tersendiri. Begitu banyak kawan di sana.” Kau tersenyum
dengan mata mengawang.
Kuhela
nafas. “Benarkah? Kawan seperti apa yang kau bicarakan? Berpuluh-puluh orang
yang meng-addmu saban hari meminta konfirmasi? Apa kau tahu orang macam apa
mereka? Apa kau tahu motif mereka? Apa kau yakin mereka semua orang baik-baik
saja?” aku bertanya sinis dengan nada datar. Hanya ingin menyadarkanmu. Berhentilah
dari semua ini.
Kau
menatapku tajam. Tak suka. “Memangnya apa pedulimu? Saat ku menjadi diri
sendiri dunia maya begitu sepi. Satu bulan barangkali hanya satu, dua, tiga
orang. Aku jenuh.” Kau berpaling lagi. Ketus.
“Tapi
tak sadarkah kau, betapa mudahnya kau mengomentari status tak penting. Betapa mudahnya
kau menjawab komentar-komentar tak bermutu itu. Dan betapa kau tak lagi menjaga
interaksimu dengan lawan jenis.” Kukeluarkan semua uneg-uneg.
“Aku
tahu.... Tapi...”
#diri
yang lelah menatap layar imajinasi, manipulasi, fantasi.
#untuk
mereka yang terlalu bermurah hati membuka hijab diri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar