Hukum2

“Saya rasa hukum qishash itu terlalu kejam mbak.” Ia masih bersikukuh dengan pendapatnya.
“Adek, hukum ini dari Allah loh. Dia yang Maha Pembuat Hukum, Maha Sempurna. Segala sesuatu dari-Nya maka harus kita ambil. Karena yakinlah pasti yang terbaik.”
“Pokoknya saya masih merasa itu terlalu kejam mbak.”
“Nah adek..., coba dikaji lagi. Lagi pula tidak serta merta pembunuh langsung diqishash. Harus ada sistem islamnya dulu. Dan ada rangkaian proses hukum yang harus dijalani. Bukti yang kuat, saksi, dan lain-lain. Proses pun dilakukan benar-benar sesuai syariat. Dan ketika keluarga memaafkan, ya tidak diqishash. Hanya wajib membayar denda. Jumlahnya memang besar. tapi si situlah bagaimana Islam benar-benar menjaga nyawa seorang muslim.”
“Hmmmm.... saya takut, Mbak” wajahnya sedikit kecut.
“Takut kenapa...? Kalau nggak bersalah untuk apa takut?”
“Mengerikan....”
“Oh..., ade takut dengan qishashnya? Berarti ade nggak takut dengan apa yang terjadi sekarang? Pembunuhan terhadap ibu oleh anaknya sendiri? Kakak menikam  adik hingga tewas? Suami mutilasi istri? Istri bacok suami? Penyiksaan hidup-hidup hingga tewas? Ade nggak takut ya...? Padahal yang terbunuh adalah orang yang belum tentu bersalah loh. Dan lagi dibunuhnya dengan cara yang tidak manusiawi.” Kusentuh pundaknya.
“Hah? Emmm, iya sih. Iya, lebih mengerikan ya?” ia mengangkat wajahnya.
“Nah, itu. Orang-orang sekarang sibuk menyerang Islam. Katanya Islam itu kejam. Ada qishash misalnya. Entah mereka sadar atau tidak, zaman sekarang pembunuhan sudah menjadi hal biasa di mana-mana. Motif dan cara yang beragam pula. Dan terhadap orang-orang yang belum tentu bersalah. Apa mereka lebih takut kepada aturan Islam? Coba dibandingkan.”
Aku tahu ia mulai paham. Semoga dapat membuka pintu selanjutnya.

#remixfiksidannyata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar