“Saya
rasa hukum qishash itu terlalu kejam mbak.” Ia masih bersikukuh dengan
pendapatnya.
“Adek,
hukum ini dari Allah loh. Dia yang Maha Pembuat Hukum, Maha Sempurna. Segala sesuatu
dari-Nya maka harus kita ambil. Karena yakinlah pasti yang terbaik.”
“Pokoknya
saya masih merasa itu terlalu kejam mbak.”
“Nah
adek..., coba dikaji lagi. Lagi pula tidak serta merta pembunuh langsung
diqishash. Harus ada sistem islamnya dulu. Dan ada rangkaian proses hukum yang
harus dijalani. Bukti yang kuat, saksi, dan lain-lain. Proses pun dilakukan
benar-benar sesuai syariat. Dan ketika keluarga memaafkan, ya tidak diqishash. Hanya
wajib membayar denda. Jumlahnya memang besar. tapi si situlah bagaimana Islam
benar-benar menjaga nyawa seorang muslim.”
“Hmmmm....
saya takut, Mbak” wajahnya sedikit kecut.
“Takut
kenapa...? Kalau nggak bersalah untuk apa takut?”
“Mengerikan....”
“Oh...,
ade takut dengan qishashnya? Berarti ade nggak takut dengan apa yang terjadi
sekarang? Pembunuhan terhadap ibu oleh anaknya sendiri? Kakak menikam adik hingga tewas? Suami mutilasi istri? Istri
bacok suami? Penyiksaan hidup-hidup hingga tewas? Ade nggak takut ya...?
Padahal yang terbunuh adalah orang yang belum tentu bersalah loh. Dan lagi
dibunuhnya dengan cara yang tidak manusiawi.” Kusentuh pundaknya.
“Hah?
Emmm, iya sih. Iya, lebih mengerikan ya?” ia mengangkat wajahnya.
“Nah,
itu. Orang-orang sekarang sibuk menyerang Islam. Katanya Islam itu kejam. Ada qishash
misalnya. Entah mereka sadar atau tidak, zaman sekarang pembunuhan sudah
menjadi hal biasa di mana-mana. Motif dan cara yang beragam pula. Dan terhadap
orang-orang yang belum tentu bersalah. Apa mereka lebih takut kepada aturan
Islam? Coba dibandingkan.”
Aku
tahu ia mulai paham. Semoga dapat membuka pintu selanjutnya.
#remixfiksidannyata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar