Sepotong Kue




 Seorang gadis menangis di tengah gelapnya malam. Ia khusyuk, terlarut dalam tangis sesal. Dadanya sesak menahan himpitan rasa bersalah. Tapi setidaknya hari itu ia mencoba lagi, tak henti untuk kesekian kali memohon ampun terhadap kesalahan masa lalu. Terbersit dalam khayalnya malam itu kan datang sebuah keajaiban. Ia akan meminta mesin waktu, dengannya ia mampu mengubah dunia, sekejap saja. Tapi mimpi sekedar mimpi. Satu hal yang pasti, ia harus bertobat lagi dan lagi.
Kala itu, ah, bodohnya ia. Seorang datang membawa sepotong kecil kue yang ia sebut ‘cinta’.  Bertabur warna-warni gula tanpa rasa. Tapi entah mengapa matanya buta, kue itu kelihatan lezat di mata. Terhapuslah ingatan. Padahal ia tak begitu lapar, padahal ia miliki satu nampan yang lebih lezat, lebih enak, lebih manis, lebih gurih, dan pastinya ‘milik’ sendiri.
Bodohnya ia, ia terima sodoran itu. Sedikit gemetar. Mencicipi. Satu, dua, tiga kali. Berulang lagi. Berulang hingga ia sadari, racun yang perlahan mengalir bersama aliran darahnya. Kini rasa sakit tak terperi. Sepotong kue berganti lebih besar lagi. Konon jika berhenti ia akan mati. Maka jadilah ia terpaksa telan dan telan lagi. Ia ingin lari, tapi takut mati.
Lalu datang seseorang, menyentakkannya, memaksanya ikut berlari, mengatakan ia tak akan mati. Ia pun ikut berlari...
Memang jauh sudah. Tapi racun itu masih mengaliri. Ada syaraf-syaraf yang putus, tak bisa diperbaiki. Tak ada guna disesali. Kini terpenting ia jaga kesehatan diri, berharap dapat pulih kembali.
#kisahkawan
#ibrah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar