Berhenti
berprasangka negatif, suudzan.
Sungguh
pelajaran untuk kita semua betapa suudzan itu menyesakkan dada. Seolah-olah ada
yang mengganjal di hati dan pikiran. Apalagi jika sampai lisan ikut menuturkan.
Benar jadi ghibah, salah jadi fitnah. Hidup tidak berjalan plong, sempit,
terhimpit. Kenapa begini, kenapa begitu?
Cobalah
tuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Walau terkadang memang sulit
dan terasa berat, paksakan diri tuk berpositif thinking/husnudzan/berprasangka
baik. Awalnya memang sulit. Kita seperti memaksakan diri. Yah, tapi itulah
bagian dari latihan menempa diri tuk kebaikan.
Setelah
proses pemaksaan itu setahap demi setahap akan terasa lebih ringan dan nyaman. Apalagi
ketika kita dapati ternyata ‘sesuatu’ itu memang tak seburuk yang kita
bayangkan, atau bahkan prasangkan negatif kita di awal memang 100% salah. Yakin,
selanjutnya pikiran kita akan otomatis memblokir negative-negative thingking
yang bersliweran. Akan ada saja alasan yang menolak.
“ah,
saya kan belum mengenal dia sepenuhnya”
“pasti
ada hikmahnya nih”
“mungkin
dia lupa”
“dia
haya belum paham saja”
“bisa
jadi besok dia berubah”
Akan
lebih terasa jika kita mampu meredam negative thinking orang lain (baca:
ghibah). Meski terkadang dijawab dengan ‘tapi’, tidak jarang mereka juga akan
ikut berpikir dan berkata ‘iya juga ya’. Kalau pun tidak berhasil setidaknya
kita menunjukkan bahwa topik pembicaraan (ghibah) itu tidak kita sukai.
Dunia
memang sangat berwarna. Dengan berbagai macam karakter manusia kita dituntut
saling memahami, saling berbagi, saling menerima perbedaan, dan berbaur (tentu
tanpa melebur). Ya, kita diciptakan untuk saling kenal mengenal. Semoga ke
depannya bersama kita bisa terus memperbaiki diri. Wallahua’lambishshawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar