Ketika Harus Mengejarnya



Cukupkah, bila kita hanya berteriak, memohon, berkata “tunggu” sementara kaki masih berpijak di tempat yang sama? Tak berubah sama sekali. Kalau pun iya, hanya satu atau dua langkah. Ada pun ia di depan sana terus berjalan.
Masih di tempat yang sama. Kita berharap ia berhenti, dan menunggu. Itu adalah hal yang mustahil. Mustahil dapat mengejarnya sekali pun ia menunggu dan terus menunggu.
Nyatanya ia tak berhenti. Maka kita yang harus berlari. Jika kemudian posisi masih tak sama, yah, sekurang-kurangnya hanya berjarak satu atau dua meter. Cukup tuk membuatnya dapat mendengar, menoleh, berhenti. Memang, keputusan bukan kita yang menentukan. Adalah pilihannya tuk menunggu dan meraih tangan kita, atau terus berjalan tanpa peduli. Hanya perlu berusaha keras. Soal hasil, biarlah Allah tentukan yang terbaik.
Barangkali kita perlu berkaca. Mengharapkan seseorang yang lebih baik adalah mustahil jika kita hanya menajdi orang yang sama. Bahagiakah saat kita berkata “alangkah beruntungnya diriku”? Sementara ia?
Memang, perkara itu adalah rahasia besar Sang Pencipta. Tapi alangkah baiknya detik demi detik kita terus berusaha tak menjadi orang kemarin.
Perempuan baik-baik untuk lelaki baik-baik pula. Demikian juga sebaliknya.
 Wallahua’lam bishshawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar