Dialah Cinta



Aku sudah punya cinta, dengan segala bentuk perhatiannya, dengan begitu banyak pengorbanan darinya.
Sehari tak cukup satu atau  dua kali ia menanyakan kabarku, apa yang sedang kulakukan, sudah makan atau belum, atau sesuatu yang lain entah penting atau tidak. Dan aku, bibir ini selalu mengulum senyum menatap layar Nokia hitam kecilku, lalu tanpa ba-bi-bu mereply.
Terkadang ia ngambek, jika ku terlalu sibuk dan lambat membalas. Emoticon di layar lagi-lagi membuatku terkikik, tapi juga merasa bersalah. “tadi sibuk, banyak tugas”. Tak butuh waktu lama tuk ia kembali cerah  dan tertawa, berolok-olok denganku. Ketulusan cintanya seolah melarutkan bibit-bibit kemarahan dan kecewa. Aku sayang padanya.
Kehadirannya bukan hal baru. Hanya saja, bodohnya aku, tak menyadari besarnya cinta itu. Ia selalu di dekatku, mempercayaiku sebagai tempat curahan hatinya, kadang meminta pendapatku, dan rahasia-rahasia kecil lain yang secara terbuka ia bagi.
Teringat ketika ia memiliki barang baru, aku meliriknya. Dan kau tahu? Ia rela bertukar dengan milikku yang biasa saja, yang sudah usang.
Ia yang tanpa diminta amat mengerti kebutuhannku, ia yang tanpa kata memaafkannku. Pernah suatu malam aku tak dapat tidur, merasa bersalah sedikit berkata kasar padanya. Kudatangi ia dengan penyesalan terdalam. “Maaf” ujarku sembari menahan air mata yang hampir meluap-luap. Aku malu.
Aku mencintainya. Hanya padanya kubisa memeluk, merasakan dekapan hangat. Aku selalu ingin bermanja. Kadang kupikir aku terlalu childish. Ah, tapi rasa sayang itu tak mampu terbendung lagi.
Ibu, mama’, ummi, maafkan jika anakmu ini pernah bersalah, pernah membuat air matamu bercucuran, membuat dadamu sesak. Maafkan ummi....
Menganggap cintamu “biasa saja” sewajarnya seorang ibu adalah hal jahat. Engkau luar biasa, engkau istimewa, cintamu tak biasa.
Ibu, aku selalu ingin kembali pulang. Tapi di sini pun merupakan amanahmu, abi, dan orang lain yang mempercayai anakmu ini. Aku sadar, aku harus bertahan. Walau engkau tak tahu begitu beratnya kulalui hidup ini. Inilah hidupku ummi. Yang masih tak seberapa dibanding perjalanan hidupmu. Engkau jauh lebih menderita. Tapi biarlah penderitaan menempa diri menjadi lebih dewasa. Biar kutahu makna hidup yang sesungguhnya. I love u.

Samarinda, 18 Agustus 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar