Our Moments to Remember



Did u remember, my Bro? Momen-momen berkesan kala kita kecil dulu. Saat ku masih lebih tinggi. Berbeda jauh dengan sekarang, seperti jari tengah dan kelingking. Saat itu kau antarkan kakakmu yang masih duduk di taman kanak-kanak ini. Yang terlalu takut bertemu anjing di jalanan. Hingga akhirnya kau malah merengek ingin ikut bersekolah. Minta raport pula. Kau masih lugu.
Di kesempatan lain, saat anak-anak nakal itu hendak mengambil sendal pelangi kita yang baru. Kakakmu ini hanya bisa teriak, hampir menangis. Lalu kau datang meneriaki mereka, mengusir. Padahal (lagi) badanmu pun masih mini.
Ingat lagi saat kita asyik memakan irisan-irisan pisang yang akan dibuat sale untuk dijual. Atau saat bau khas ikan asin goreng menggelitik hidung, dan gurihnya nasi liwet memenuhi mulut, mengisi perut kita yang keroncongan. Di atas daun pisang layu yang telah dipanaskan plus sambal goreng spesial buatan ummi, makanan sesederhana itu terasa nikmat.
Tak kalah seru ketika kita naik gerobak kayu penuh jerigen menuju sungai. Ya, kita harus prihatin. Air bersih dari sumur tidak mencukupi kebutuhan kita sehari-hari. Walhasil beberapa hari sekali abi harus mendorong gerobak kayu, dengan kita yang duduk gembira di atasnya. Air juga yang menjadi alasan kita harus sering makan menggunakan daun pisang belakang rumah selain karena jumlah piring  yang juga hanya sedikit.
Momen lucu lainnya kala dengan polosnya kita membawa lembaran kertas berisi coretan ummi ke warung. Saat itu kita berpikir membeli tak harus dengan uang. Kertas pun bisa.
Kadang dulu aku protes. Mengapa begitu dekat jarak usia kita. Karenamu ku harus disapih jauh sebelum berusia dua tahun. Tapi selanjutnya ku paham, Allah mengatur skenario terbaik.
Jangan lupakan juga pertengkaran-pertengkaran kecil kita. Layaknya anak kecil kita berebut, saling diam, saling ejek. Dengan egonya membenci. Dan tak lama kemudia berbaikan lagi.
Penderitaan masa itu kini menjadi lelucon penuh tawa. Seolah tanpa beban. Tentu saja, karena semua sudah berlalu.
Seiring berjalannya waktu kau tumbuh lebih cepat dan pesat. Setiap kali bersama pasti orang mengira kaulah lebih tua. Dan kita cengar-cengir mengklarifikasinya.
Apa kabar, Bro?
Sekarang tak ada lagi alasan untuk kita bertengkar. Kita bukan anak kecil lagi. Kalau pun terkadang ada selisih, itu tak akan lama kan? Semakin bertambahnya usia nampaknya kita semakin memahami hal-hal yang rumit. Semoga.
Rasa sayang seseorang dengan ikatan darah memang berbeda. Tak perlu lebay diungkapkan, ditunjuk-tunjukkan dengan terus menempeli kalimat dengan kata ‘cinta’, ‘sayang, or ‘rindu’. Tanpa semua embel-embel itu pun kita tetap punya rasa. Bahkan hingga tak sanggup terucapkan.
Dan rindu seperti jadi mistery. Tapi kuyakin sebenarnya ia ada. Mungkin kau terlalu gengsi mengatakannya. Dan aku pun tak kalah gengsi. Namun kini gengsi ini sedikit turun dengan hadirnya catatan ini, Bro.
Kita bersama masih punya banyak mimpi. Ku belajar, kau bekerja. Ku sibuk dengan tugas-tugasku. Dan kau sibuk dengan manajemen usahamu. Ku dikejar deadline, kau dikejar setoran. Haha. Sorry Bro, jangan terlalu serius.
Kau masih ingin belajar. Aku tahu itu. Tunggu saatnya rolling tiba. Kau lanjutkan study walau agak terlambat, dan aku mengaplikasikan apa yang telah kudapat.
Jika hari ini hidup terasa berat tuk dijalani, sepertinya kita harus berbenah diri. Menengok sejauh mana kita berusaha, sekeras apa kita berupaya, setulus apa kita jalankannya. Menilik lagi, adakah cara yang tidak diridhai-Nya, lalu memperbaikinya.
Wallahua’lambishshawab


Tidak ada komentar:

Posting Komentar