Barakallahufiik, kawan, sahabat...
Semoga pernikahan itu menjadi berkah bagimu. Setelah sekian lama menunggu ya?
Kau mendahuluiku dan dua orang kawan kita yang lain. kau dan enam kawanku lain, kalian mendahului kami... haha. Tak apa. Memang belum qadha-ku bertemu dengan "seseorang itu". Entah kapan
Masih terbayang saat kita berkumpul di kelas. Saling mengolok. "Kalau salah satu dari kita nanti nikah, harus undang yang lain ya. Nggak boleh diam-diam."
Nyatanya? beberapa dari kalian bahkan tidak memberitahuku. Apa karena jarak? Ah, mungkin karena sibuk. Lagipula aku tak bisa datang. Hanya bisa mengirimkan sepaket doa.
Kini tinggal kami bertiga? :D haha. Kita rupanya beranjak semakin tua. Kalian menjadi ibu, dan aku...? tante? bibi? aghhhh, jangan! Panggil saja aku kakak ya adik-adik manis...:)
Aku masih sibuk kuliah kawan. Please, jangan katakan hal ini lagi, "Enaknya kamu bisa kuliah, Fa..." Tidak-tidak. Jangan begitu. Menjadi ibu rumah tidaklah lebih rendah dari menuntut ilmu. Justru kalianlah yang mencuri start bukan? Kalian menempa diri lebih dulu, mendidik jagoan dan putri kecil calon penerus kita.
Lalu apakah aku sedang iri? ya??
Jujur, memang ya.
Kawan, manusia mana yang tak ingin menemukan sosok pendamping seumur hidup, sampai kita menua dan mati. Seseorang yang menguatkan, melindungi, menjaga, menjadi kawan saat suka dan duka. Menerima diri ini dengan segala kekurangan, apa adanya.
Tapi penemuan itu memang tidak instan.Ada tahap menunggu. Apakah menjemukan? Bisa ya, bisa tidak. Cukup, jangan terlalu dipusingkan. Untuk ia yang tlah tertulis di lauhulmahfudz, kita masih perlu memperbaiki diri. Soal waktu, biarlah Allah yang tentukan timingnya. Ehhh, tapi ini untuk wanita. Kaum adam beda lagi. Kalian tentu harus berusaha lebih. Ada kebebasan tuk memilih yang disuka adalah sebuah keistimewaan. Tapi wanita, berhak pula memilih, menerima atau tidak. Tentu dengan pertimbangan yang sesuai syariat.
wallahua'lambishshawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar