Pasif

Aku hanyalah penonton di jejaring sosial. Menikmati status-status sejuk berisikan nasehat, tersenyum geli membaca humor-humor lucu, marah dengan kabar ketidakadilan negeri ini, dan ikut bersemangat walau hanya sebatas me-like.
Sesekali saja aku beraksi. Kala mood berbicara. Selebihnya diam dan pasif. Baca, senyum, tertawa, sedih, marah, tutup tab.
Dan aku pun selektif sekali. Berkawan hanya dengan perempuan. No ikhwan or lelaki. Meski ada beberapa, yah, mereka keluarga dekat. Atau juga karena salah pencet. Sekedar bentuk penjagaan diri. Apakah terlalu over? Terserahlah. Yang kutahu, saat ini itu langkah terbaik.
Tak peduli, apakah blog ini tak berpenghuni. Or kita sama?
Di sela tugas-tugas yang menumpuk. Haaa, sekedar iseng, tulisan kacau balau ini belum rampung juga. Padahal sudah larut malam. Tapi masih banyak yang ingin kutumpahkan.
Kau tahu kan kawan, hidup memang gak semudah yang dibayangkan. Kita butuh perjuangan untuk survive. Bukan sekedar survive. Tapi harus bermakna.
Makan untuk hidup or hidup untuk makan?
....
Mengambil jarak bukan berarti tak peduli
Tak menyapa tidak mesti benci
Beberapa hal tak harus dimengerti
Beberapa hal cukup sekedar dibagi
seperti tulisan hari ini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar