Sejatinya Persahabatan

Persahabatan bagaikan sebuah pohon. Jika terus disiram dan dipupuk, ia akan tumbuh semakin besar, berakar kuar, bercabang, dan rindang. Ia akan menjadi tempat berteduh yang nyaman. Kala terik kehidupan begitu menyengat, ia mampu memberi kesejukan dan tempat bersandar. Melepas lelah, merefresh semangat tuk melanjutkan perjalanan hidup yang panjang.
Persahabatan bagaikan sebuah pohon. Kokoh berdiri tegak. Tapi, bisakah ia roboh? Bukankah persahabatan tak seperti cinta yang bisa putus-sambung? Bukankah persahabatan adalah jalinan sejati yang tak kenal masa?
Ya, persahabatan bisa roboh, hancur, dan rusak.
Persahabatan macam apa?
Ialah persahabatan yang tak diikat oleh ikatan yang shahih. Misal oleh kebersamaan yang amat panjang, rasa sayang sebagai adik/kakak, kawan curhat, de-el-el. Persahabatan semacam ini adalah persahabatan yang rapuh. Saya berikan contoh lain.
Seorang kawan saya memiliki sahabat. Karena begitu dekat terkadang orang mengira mereka kaka beradik. Makan suap-suapan, saling berbagi, jalan bareng. Benar-benar dekat bagai tak terpisahkan. Hingga di suatu hari, kawan saya berubah haluan. Ia memilih jalan dakwah yang lain. Pindah organisasi. Walau walau masih sama-sama organisasi islam, si sahabat tetap tidak rela. Ia berupaya sedemikian rupa mengembalikan kawan saya ke organisasi semula. Tak berhasil. Pada akhirnya, si sahabat mulai menjauh, menjaga jarak. Mereka yang tadinya sekamar pun sekarang tidak lagi. Kawan saya mencoba menelpon, tak diangkat. Sms pun hanya dibalas sesekali, seperlunya, tak seakrab dulu. Ia menangis, bahkan sempat opname di rumah sakit karena drop. Fisiknya lemah, tak mampu menahan banyaknya tekanan yang salah satunya adalah hal ini. Persahabatan hancur.
Apa yang salah? Persahabatan ini tak diikat oleh ukhwah. Meskipun sama-sama muslim, tapi persahabatan mereka hanya berlandaskan perasaan semata. Lantas bagaimana yang benar? Bangunlah sebuah jalinan yang berlandaskan aqidah islam. Dengan demikian, kita tak akan mudah terombang-ambing oleh labilnya perasaan sebagai manusia.
Saya pun masih terus mencoba menata hati. Tak semua orang dapat menjadi sahabat memang. Tapi setidaknya dengan ikatan aqidah yang sama, muslim yang lain adalah kawan bagaimana pun kondisinya. Ya, selama ia muslim, ia kawan kita.

Semoga persahabatan kita termasuk yang diridahi oleh-Nya. Aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar