Memaafkan? Tentu ia akan memaafkan. Wanita yang telah
mengisi dua belas tahun terakhir bersamanya. Ibu dari jagoan kecilnya. Bagaimana
bisa ia tak memaafkan? Terlebih lagi kenyataan menunjukkan Rhani tidak salah. Ia
melakukan hal-hal tersebut di luar kesadarannya.
Ah,
tapi benar-benar tak mudah. Memang ia tlah memaafkan. Dengan lapang pun ia tlah
mengikhlaskan segala yang terjadi. Tapi benar-benar tak mudah membuka mata
beratus kepala tetangga. Bahkan ia tak yakin apakah hanya tiga digit angka. kau
tahu kan bagaimana sebuah kampung. Jarum yang jatuh di ujung kampung saja bisa
terdengar semua orang. Sampai ke kampung sebelah pula.
Pikirannya
kacau. Perpisahan di depan mata. Sebelumnya, badai rumah tangga pernah
menghantam. Ia masih sanggup menangani. Dengan bantuan tulus sanak family
masalah berakhir. Tapi kali ini sungguh berbeda.
Sebenarnya
bisa saja mereka memilih bertahan. Beberapa kasus yang sama, pelakunya masih
bertahan di kampung kecil itu. Melanjutkan hidup seolah tak pernah terjadi
apa-apa. Tebal muka memang salah satu jurus yang ampuh. Tapi lelaki itu sadar,
keluarganya berbeda. Terpandang, dihormati, dan disegani. Maka pantaskah mereka
bertahan?
Sementara
itu, ada kemungkinan lain yang membuatnya jauh lebih khawatir yaitu keselamatan
Rhani. Lelaki ketiga itu berada satu kampung. Walau ia tahu, lelaki ketiga
hanyalah boneka. Ada lelaki keempat yang sejatinya ingin menghancurkan nama
baik keluarga. Berulang. Kejadian ini adalah yang kesekian kalinya setelah
cara-cara sebelumnya selalu gagal. Ya,
kali ini para penghancur itu berhasil. Kehidupan yang ia bangun bertahun-tahun
runtuh. Nama keluarga tercemar.
Ia
pasrah. Kenyataanya ia memang harus berpisah meski sementara waktu. Kini timbul
perasaan bersalah di hatinya. Salah, mengapa ia tak lebih menguatkan Rhani
menjaga akidah, memperbanyak ibadah, membentengi diri dengan dzikir,
memperbanyak mengingat-Nya. Mengapa dan mengapa.
***
Terisak.
Ia duduk tersandar di sudut ruangan. Dunia kini kelabu. Air mata seorang lelaki
jatuh begitu saja, mengalir tiada henti. Perjalanan cinta seolah usai. Sampai di
sini sajakah? Kini ia pun tak dapat lagi bersenda gurau. Mulutnya beku.
***
Pernah
diputuskannya untuk pergi. Bukan ke tempat lain melainkan ke dunia lain. Dunia di
mana sang ayah telah lebih dulu pergi. ia ingin mengakhiri segala penderitaan
ini. Tapi akalnya masih sehat. Urung dilaksanakan.
***
Tangannya
enggan bergerak mengangkat dering ponsel. Sudah lebih dari tujuh kali ponsel
berdering. Ah, ia hanya ingin sendiri. Jauh dari hiruk pikuk orang-orang yang
menyebut namanya. Terbayang di kepalanya berjuta mulut saling berbisik. Ditambah
bumbu penyedap di sana sini. Bertambah banyak telinga yang menangkap kabar itu.
Ingin ia melakukan klarifikasi, menyelamatkan nama baik Rhani. Namun ia
menyerah. Ada biang kerok yang lebih dulu menyebarkan desas-desus. Kenekatannya
mungkin hanya menjadi bahan olokan.
Suami tak tahu diri, masih saja
membela istrinya.
***
Entah
berapa lama akan berjalan seperti ini. Tak satu pun keluarga tahu
keberadaannya. Ia berjalan, mengikuti ke mana langkah kaki membawa. Dunia masih
berwarna kelabu. Hujan, panas, sama saja. Yang ia tahu harus mendekatkan diri
pada-Nya. Dengan sebuah keyakinan akan ada hikmah lain yang bisa dipetik dari
peristiwa kali ini. Dan sebuah harapan kehidupan esok akan jauh lebih baik.
Sebuah
senyum terbayang di pelupuk matanya. Senyum belahan jiwa yang tak lagi
terjangkau olehnya.
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar