"Pak, ada nasi campur?" tanyaku.
"Oh, bukan saya yang jualan Mbak. Ini na yang jualan." Ia menunjuk pada seorang gadis kecil yang berjalan menghampiriku.
Dia? Aku sedikit terkejut dalam hati.
Dua orang gadis kecil melayani pesanan lalapanku. Salah satu dari mereka masih mengenakan celana olahraga berwarna ungu.
"Kalian masih sekolah?" aku tak mampu membendung rasa penasaran.
Mereka menoleh, "Iya, masih" jawabnya.
"Kelas berapa?" aku bertanya lagi.
"Kelas satu SMP" katanya sambil menggoreng dua potong ayam.
"Oh..., kalian adik kakak? atau saudara?"
"Emmm, saudara jauh mbak."
"Jualan tiap hari?" aku masih penasaran.
"Setiap hari gantian. Ibu baru pulang tadi magrib. Jadi sekarang kami yang jaga."
"Ohhh...."
Sungguh, aku kagum pada dua gadis kecil ini. Tapi..., bagaimana dengan belajar mereka? Kapan mereka mengerjakan tugas? Ah, semoga saja mereka juga pandai mengatur waktu. Bagiku, di usia sekecil ini mereka sungguh luar biasa.
Warung lalapan itu terletak tepat di samping sebuah hotel mewah. Dinding beton tinggi menjadi pembatasnya. Barangkali seperti hari ini, ada saja tamu hotel yang bosan makanan ala chef dan ingin makanan sederhana. Aneka lalapan bisa jadi alternatif yang lumayan.
Ah, kontras sekali.
Semoga kita dapat selalu bersyukur atas limpahan rejeki-Nya hari ini.
Aamiin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar