Nilai? Jangan bertanya padaku tentang
nilai. Jika kalian mempunyai angka satu sampai sepuluh, jelas kupilih sepuluh. Dan
akan kukejar nilai sepuluh itu mati-matian. Apakah aku ini si darah A yang
perfeksionis? Mungkin ya. Sebab aku pun tak pernah tes darah. jika ada yang
tanya, kukatakan darahku biru. Hoho. Memang tak pernah tes. Yang kutahu ayahku
berdarah A. Dan sifatku selama ini sangat mirip dengannya. Pun demikian di
beberapa sisi aku mirip ibuku. Meski hanya sedikit.
Bicara tentang nilai akan mengupas masa
lalu. Masa-masa sekolah.
SD
Nilai sepuluh hanya kudapat satu kali. Bukan
karena aku bodoh. Tapi karena waktu itu kata Pak Guru nilai sepuluh tidak boleh
ditulis di raport. Paling tinggi hanya sembilan koma. Jadilah ia harus tega
selalu memangkas nilai-nilaiku. Hingga suatu ketika di kenaiakn kelas tiga, ia “nekat”
menulis angka sepuluh. Mungkin sebagai kenang-kenanganku naik kelas tiga dengan
wali kelas baru. Sebagai anak kecil aku belum mengerti. Benar-benar ditulis
sepuluh ya senang dong.
Aku masih ingat ia begitu
mengistimewakanku. Bahkan sampai aku tak enak hati pada teman sekelas yang juga
anak beliau. Ya, beliau sering sekali membandingkan aku dan anaknya. Juga aku
dan teman-teman sekelas. “coba kalian seperti dia. Apa sih bedanya. Sama-sama
makan nasi kan?”. Selalu itu yang beliau katakan.
Baru saja kuingat. Saat ia memberi pelajaran
khusus untukku. Ya, saat teman sekelas belajar di bab awal, ia memberikan
pelajaran bab atas untukku. Sendiri. Begitu terus. Katanya aku terlalu cepat
paham. Soal-soal biasa terlalu mudah untukku. Jadilah aku manikmati soal-soal
di level tinggi. Aku senang. Tapi itu hanya di kelas dua. Saat harus naik kelas
itu bukan beliau lagi yang mendidikku. Pelajaran disamakan dengan siswa lain.
Mts
Saat UN Mts adalah sangat membahagiakan. Bisa
menjadi yang terbaik meski hanya tingkat kabupaten dan urutan kedua sudah cukup
membanggakan. Ini atas usahaku sendiri. Tanpa ada yang “menyentuh” lembar
LJK-ku. Ayah, ibu, dan guru-guru bangga. Aku mengalahkan mereka dari SMP
favorit.
MA
Menyedihkan. Si perfeksionis ini harus puas
dengan nilai pas-pasan. Awalnya sakit hati. Yah, seperti kisahku pada postingan
“ujian”. Silahkan baca sendiri. Selama ini menjadi yang terbaik tapi harus rela
menelan pil pahit di UN. Seperti tak adil ya?
Namun kucoba menggali hikmah dari semua
itu. Lihat. Alhamdulillah aku lulus snmptn. Kucoba berandai. Andai waktu itu
aku menajdi yang terbaik, belum tentu aku lolos. Mungki aku sudah terlena oleh
gelar dan pujian orang-orang. Selalu ada hikmah.
Pada akhirnya aku akan mencoba mengubah
pola pikirku sendiri. Bukannkah EQ lebih berharga dari pada IQ. Bahkan SQ lebih dari EQ. Ya, berusaha jadi
pribadi yang baik. Akhlak, akidah, iman, taqwa. Itu yang terpenting. Dan selalu
kuingat. Orang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian. So,
bukan pada nilai.
Masa kuliah nanti pemikiran ini harus sudah
berubah. Aku yang pernah menyesal masuk IPS (hanya ada jurusan IPS di sekolah. Maklum
di kampung), kini lagi-lagi senang. Aku bisa belajar sosiologi. Di sanalah aku
mengetahui tentang interaksi. Interaksi. Sesuatu yang dulu begitu sulit
kulakukan. Pernah kan kubilang aku sangat grogian? Aku pun sangat tertutup
(sifat darah A?). Semenjak belajar banyak di IPS, semakin berubah pula pola
pikir ini.
Sahabat yang dirahmati Allah. Semua tidak
tergantung pada nilai. Yang terpenting bagaimana kita bisa berarti, bermakna,
berpartisipasi dalam masyarakat. Dan masyarakat menganggap kita ada. Yang terpenting
pula adalah proses, bukan hasil. Percuma kalian mendapat sepuluh tapi dari
hasil mencontek. Oh ya, aku ingin meniru seorang guruku. Ia menilai siswanya
dari proses belajar selama ini. Ia menilai usaha kami. Ia sangat senang saat
ujian praktek akhir UAS kemarin. Baru kali ini ada siswa-siswi yang sangat
sangat bersemangat (dibanding alumni-alumni sebelumnya).
Oke. Selamat berpuasa. Meningkatkan SQ ^_^ ingat ya!!! bukan tergantung pada nilai ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar