Kalau kalian tidak
bisa menguasai semua ilmu, cukup kuasai satu. Satu saja. Cukup satu. Tapi kalian harus benar-benar ahli di dalamnya. Kalian
harus menguasainya.
Aku
masih ingat kata-kata itu. Ia, guru bahasa indonesia yang begitu kukagumi. Meskipun
penampilannya kelihatan garang, ah, sungguh ia baik dan lucu. Kemampuannya membaca
karakter tersembunyi kami juga menjadi salah satu alasan aku memfavoritkannya. Bukan
paranormal. Melainkan psikologi.
Lihat aja pelawak di
tivi. Mereka nggak pintar-pintar amat di sekolah. Mereka juga nggak pintar
menyanyi. Nggak pintar menulis. Nggak pintar berdagang. Tapi apa? Mereka bisa
sukses. Kuncinya? Menguasai satu bidang. Lawak. Simpel kan?
Harus
menguasai satu bidang, minimal. Maksimal tentu sebanyak-banyaknya. Satu bidang?
Kurasa aku pun masih harus berusaha meraihnya. Semua memang butuh proses. Tak ada
yang instan untuk menjadi penulis. Awal mula sungguh tulisan berantakan. Yah,
seperti yang sedang kalian baca saat ini. Postingan super super pendek. Bahasa juga
mungkin tidak mengalir ya? (hheehe. Kok jadi minder). Tapi itu bukan masalah. Yang
penting kan menulis. Kalau mereka bisa, kenapa kamu tidak. Kalaupun butuh waktu
bertahun-tahun, kuyakin Allah menilai semua proses ini. Bukan hasil yang
penting. Melainkan berusaha. Berusaha. Terus berusaha.
Sampai
saat ini belum berhasil menembus benteng Annida. Em, jujur aku iri dengan
mereka. Betapa bangga dan senangnya saat cerpen kita terpampang. Plus nama
sebagai pengarang. Lalu komentar-komentar para pembaca. Tak masalah manis atau
pedas. Pedas mungkin malah bisa memacu berkarya lebih baik lagi.
Pada
akhirnya, blog menjadi pelampiasan. Meskipun kebanyakan tulisan di sini adalah
kisah sehari-hari, tak apalah. Ini pun proses belajar kan. Mengunjungi blog
sahabat-sahabat mayaku. Di sana pun belajar.
Oke.
Intinya harus berusaha. Kuasai satu bidang, minimal. Menulis, menulis, menulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar