Kau
lihat sahabat, indahnya bulan purnama semalam? Ia mendominasi langit. Tak ada
bintang. Bulat utuh sang bulan dengan warnanya yang..., jingga. Ah, jingga? Aku
tak tahu. Seperti itulah yang kulihat. Ia sedikit berbeda dari biasanya.
Tapi
penglihatanku terbatas. Begitu banyak rumah di kota ini. Pandanganku terhalangi.
Tidak seperti di kampung. Aku dengan bebasnya dapat menikmati keagungan Allah
ini. Kalau pun bulan seperti tersembunyi di balik dedaunan, ia tetaplah indah.
Dan
aku..., teringat akan cinta. Pantaskah aku berbicara cinta? Tentu! Itu hakku. Cinta.
Cinta.
Cinta...,
di sini aku dapat menikmati indahnya langit sepuasku. Semalaman. Bagaimana dengan
saudara-saudaraku di luar sana...??? ketakutan pasti masih menjadi selimut
malam ini.
Cinta...,
mereka dapat meraih surga dengan berjihad, mengorbankan nyawa untuk menegakkan
islam di sana. Sedangkan aku di sini...????
Cinta...,
mereka dapat segerra berjumpa Allah dan rasulnya dalam keadaan mulia. Aku...???!!!
Ah,
cinta..., mereka merasakan betapa indahnya ukhwah saat sama-sama berperang
fisabilillah. Dan..., aku..?!!!
Cinta,
aku mencintai Allah dan rasulnya. Aku mencintai mereka. Aku cinta.... bantulah
aku merealisasikannya.
Sebenarnya..,
memang tak perlu ada sesalku di sini. Setiap muslim diuji dengan cara yang
berbeda. Berbagai kenikmatan di dalam negeri ini, itulah ujian bagi kami. Sekuat
apa kami mampu bertahan dan berlari dari kelenaan dunia, itulah cobaan bagi
kami. Dan ini hanya sebagian kecil dari banyaknya ujian yang harus dihadapi ke
depannya.
Allah...,
jadikanlah kami di antara orang-orang yang istiqomah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar