Salam Sayang untukmu

Ada yang tak kumengerti darimu, sahabatku. Ada kekecewaan yang kurasa tergantung di sudut hatiku.
Di sau sisi, engkau berubah. Perubahan yang membuatku berdecak kagum. Jauh dari yang kubayangkan. Perubahan itu memang impianmu. Ingatkah dulu engkau pernah mengutarakannya padaku? Aku bersyukur kau mampu mencapainya.
Tapi di sisi lain, Sahabatku. Waktu ternyata tak banyak mengubah engkau yang dulu. dan mengapa ia tak seimbang dengan perubahan ‘180 derajat’ di sisi lain itu? Engkau masih sama di sisi ini. Kau tetap yang dulu.
Tiga tahun perpisahan. Masihkah engkau menganggapku seorang yang istimewa. Ataukah telah tergantikan? Jika ya, maka izinkan kita berbagi lagi. Kini kutemukan apa yang kucari selama ini. Izinkan aku membawamu serta. Mari kita saling bercerita. Agar tersampaikan pemahamanku meski jauh dari cukup. Jika ku tlah tergantikan, setidaknya sapalah aku seperti dahulu. Masih..., masih ingin kugenggam tanganmu.
Pergi! Menjauhlah sahabat! Jangan kau pernah dekati lubang itu? Ia hanya akan menjatuhkanmu sangat dalam. Aku takut. Aku takut tak dapat menarik tanganmu untuk naik. Maka sebelum semuanya terlambat. Pergi! Pergilah dari sana!!!!!!!!
Aku menyayangimu. Mencintaimu wahai saudariku. Perasaan yang baru kusadari setelah kita berpisah. Dulu, wajar jika sesekali jika mengalami konflik. Tapi kuyakin ia hanyalah penyedap rasa. Kita tetap sahabat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar