Saat Badai Futur Melanda

Sahabat, ujian akan datang kepada kita silih berganti. Semakin berat ia terasa, semakin tinggi derajat seorang hamba.
Ada jenis ujian yang muncul dari faktor eksternal. Lingkungan dan keberadaan orang-orang di sekitar kita adalah ujian yang harus dilewati seberat apa pun itu. Entah apakah ujian itu segera sirna atau nampak bagai tak berujung. Bukankah sudah seringkali dikatakan yang terpenting adalah ikhtiarnya, prosesnya.
Beratnya ujian eksternal tidak akant erasa bila diiringi oleh akidah yang kuat. Demikian pula diperlukan sebuah spirit untuk melakukan revolusi. Motivasi besar akan mendorong kaki melangkah lebih maju walau aral merintang.
Tapi ada jenis ujian lain. Ujian beasal dari diri pribadi. Futur, yaitu kondisi di mana semangat berdakwah melemah. Mau ini itu terasa berat, padahal boleh dibilang hanya sebuah amanah kecil. Nah, kefuturan ini pun pemicunya tidak hanya satu. Virus merah jambu bisa jadi. Saat warna merah jambu memudar, perlahan berubah menjadi abu-abu, hampir busuk. Saat itu seorang pengemban dakwah bisa down. Ah, virus yang satu ini memang berbahaya. Karena itu cara terbaik adalah mencegahnya berkembang biak. Memang naluriah menyukai seseorang. Sebagai fitrah manusia, tak ada yang menyangkalnya. Tindakan kita adalah mengalihkan rasa itu. Banyak beraktifitas. Jangan sampai pikiran kacau untuk hal-hal yang menjurus pada keharaman.
Faktor lain keuangan. Tak dapat dipungkiri memang. Dunia mahasiswa. Makan, kost, bensin, pulsa, diktat, buku kuliah. Iuran kelas, bla-bla-bla tidak jarang membuat sebagian orang pusing. Kasihan sekali jika kemudian dakwah harus melemah karen faktor materi. Padahal sudah jelas, jika kita menolong agama Allah maka Allah pasti akan menolong kita. Bukan begitu? kalau sudah demikian cari solusi. Berdiam diri dan malas berdakwah justru menjauhkan solusi tersebut. Bicarakan pada kawan terdekat, atau yang mampu secara finansial. Meminta bantuan tidak harus malu. Toh, dari pada mencuri. Yakinlah akan selalu ada orang-orang yang ikhlas memberikan uluran tangannya.
Kebimbangan bisa menajdi faktor yang cukup sadis membantai spirit dakwah. Memasuki suatu kelompok memang diawali dengan penjajakan. Sepak terjang kelompok perlu digali lebih dalam lagi. Selain itu, terus belajar mengenai berbagai hal terkait kelomok mutlak diperlukan. Why? Tentu saja sebagai penguat. Jangan menjadi bebek. Ini berbahaya. Jika kawan atau orang yang anda ikuti itu menyimpang atau salah, so, siap-siap patah hati. Pengetahuan dan ilmu yang kuat akan diperlukan pula dalam suatu diskusi. Pastikan memiliki argumen yang kuat. Walhasil, angin tak akan membuat pohon bergoyang dan kemudian tumbang.
Permainan perasaan paling banyak melanda wanita. Entah untuk pria akan seperti apa karena jujur tidak banyak yang saya ketahui. Seperti yang sering dibeberkan, wanita 99% bermain pada perasaan. Hanya 1% akal.  Ada benarnya memang. Banyak kasus di mana perasaan mengambil alih akal sehat, menjerumuskan manusia (khususnya wanita) ke lembah dosa. Perasaan tidak hanya cinta. Kerinduan kebebasan masa lalu bisa jadi pemicu. Ada kala setan meniup-niupkan kegoncangan yang hebat. Melemahkan sendi dan nasaf dakwah seorang hamba. Beberapa merasa tak dimengerti. Ada yang merasa perlu istirahat. Ada yang merasa tidak cukup pantas. masyaAllah.
Untuk yang merasa tak dimengerti. Manusia adalah tempat salah dan dosa. Memang, wajar dalam pergaulan pernahs esekali terjadi kesalahpahaman. Tapi yakinlah, Allah mengerti kita. Perasaan itu adalah sebagian dari ujian-ujian. Apakah kita mampu bertahan dari angin puting beliung, lalu jatuh saat angin sepoi-sepoi membelai? Bercermin, apakah kita sudah maksimal mengerti tentang orang lain. Atau justru kita belum mengerti diri kita sendiri?
Mengenai istirahat. Jangan khawatir. Akan tiba masa peristirahatan panjang dari dunia. Jangan khawatir, masa itu akan datang bahkan tanpa kau undang. Oleh karena itu, cukupkanlah keniscayaan itu menjadi pembakar. Saat ini bukan waktunya beristirahat. Yakinkah kita amal ini sudah cukup banyak? Terlebih lagi kita bukankah manusia yang pasti dijanjikan surga tanpa hisab. Ini waktunya bekerja. Ini waktunya bergerak dengan kata dan kuasa kita.
Tidak cukup pantas?. Engkau salah. Allah telah memerintahkan setiap hambanya menyampaian walau  satu ayat. Ini bermakna setiap dari kita punya potensi. Kita punya mulut, tangan, kaki. Kita punya sejuta nikmat untuk menyampaikan dengan lantang pada dunia tentang ayat-ayat Allah. Apa lagi yang kurang? Apa lagi? Hanya seonggok daging tanpa ruh yang tak bisa berbuat sesuatu apa pun. Sedangkan kita?

Mintalah pada mereka untuk menyeretmu saat kau berjalan atau bahkan berlari dari medanmu. Mintalah mereka mengikatmu. Mintalah mereka memegang erat tanganmu. Mintalah mereka selagi bisa. Kepastian terkuat memang berada di tanganmu. Tapi yakinlah, sang pemilik jasad dan ruh tak akan pernah Ridha jikalau engkau melenggang pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar