Lugu

"Ah ibu, dikit-dikit haram." komentar seorang siswi kelas tiga SMP yang saya ajar sambil sedikit manyun.
Di lain waktu mereka kasak kusuk
"Eh, ada ibu 'jangan pacaran' lewat. Hehe." sambil tertawa kecil.
Pernah di lorong kelas seorang siswa mencegat saya.
"Bu, bu. Ya, kan bu pacaran itu gak boleh?" katanya tiba-tiba sambil berhenti di depan saya.
"Hem.... Iyalah, gak boleh."
"Nah kan? Apa kata ibunya? Gak boleh kan?" ia menoleh kepada temannya.
Ah, anak-anak. Ada-ada saja.
"Bu, nanti masuk lagi ya pelajaran agama." iya masih melanjutkan sebelum beranjak pergi.
Saya tersenyum, "Iya, kalau bapaknya gak masuk ya...."
Mereka remaja, mudah terwarnai oleh dunia yang kejam ini. Saya tidak akan lupa wajah polos dan manis mereka di dalam kelas. Hingga saat lomba karaoke, mereka memilih bernyanyi lagu dangdut. Lalu bergoyang bak biduan, tanpa rasa malu. Di hadapan adik kelas, bahkan guru-guru. Sungguh, saya yang menonton yang jadi malu.
Saya takut, wajah-wajah polos itu sejatinya tak sebanding lurus dengan tingkah laku mereka di luar, tanpa pengawasan orang tua dan guru. Ya Allah...., seperti inikah kondisi remaja islam saat ini? Mereka yang kelihatan 'baik-baik saja' sejatinya butuh bimbingan, arahan kemana mereka seharusnya berjalan.
Ya, memang perlu tuk lebih perhatian. Tengoklah kiri dan kanan kita.
Dakwah. Dakwah. Dakwah. Sampaikan kebenaran, tanpa banyak alasan, tanpa peduli hujatan. Ulurkan tangan kita, raih dan genggam tangan mereka selagi sempat. Karena generasi muda adalah harapan masa depan.
#EdisiPPL2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar