Maling



Gara-gara malas, saya baru menulis lagi. yah, lagi-lagi MALAS. Lima huruf itu memang penyakit yang mematikan. Mematikan kreatifitas.
Padahal PPL sudah akan berakhir. Semoga tak jadi kisah usang yang terlupakan. Maka dari itu buru-buru saya tuliskan. Takut keburu lupa.
Siang itu kelas VII B tidak belajar seperti biasa. Guru mata pelajarannya tidak masuk. Jadilah saya dan teman prodi BK yang menggantikan. Selang beberapa lama, soal sudah selesai dikerjakan. Beberapa anak laki-laki masih bergerombol mengobrolkan sesuatu. Sampai akhirnya saya dengar mereka berbisik tentang pencurian. Karena gak tahan penasaran, saya blak-blakan bertanya,
“Ibu dengar di kelas ini ada yang jadi maling ya? Hayo siapa tu?”
“Itu na bu malingnya.” Salah seorang di antara mereka menunjuk.
Dia? Ckckck. Gak heran di kelas memang yang paling “super-duper”.
“iya Bu, itu malingnya. Maling di In*omart lagi. haha.”
Sementara yang ditunjuk hanya senyum-senyum cengengesan.
“Ya ampun…, ngapain sih kamu nyuri segala. Gak ada uang buat jajan kah? memangnya kamu ngambil apa?”
Do u know apa yang selanjutnya mereka perbincangkan?
Sambil ketawa-ketiwi bocah-bocah yang sebelumnya tampak lugu di kelas itu saling mengolok.
“Hayo, ngambil apa? Haha. Kamu sih Bod*h kenapa gak bayar”
Akhirnya tersangka buka mulut. “Kalau pun aku bayar mana bolehlah”
Saya bingung,”memangnya kamu nyuri apa?”
“Itu bu… Sut*ra.”
Saya masih bingung. Setelah dikode teman di sebelah saya baru kemudian saya ngeh. What? Kondom. Mereka ngomongin kondom. Nih anak nyuri kondom. Sumpah, saya masih setengah nggak percaya hingga saat ini. Apakah ini hanya guyonan mereka atau emang beneran. Tapi dari obrolan mereka kok rasanya nyata.
“Ya Allah, Rul. Buat apa sih kamu nyuri barang kayak gitu?” saya kesal, jengkel, campur heran.
“Hehe. Nggak bu. Itu saya disuruh orang.” Lagi-lagi dia Cuma cengengesan.
“Kalau pun disuruh kenapa kamu mau?” teman saya ikut bertanya.
“Ya nggak apa-apa bu, kan disuruh aja.”
“Ckckck, Rul. Lain kali kalau disuruh orang begitu ya jangan mau.”
Duh, anak-anak ini. Saya benar-benar nggak habis pikir. Mau jadi apa mereka nanti.
Apa  yang nampak oleh mata memang bisa jadi bukan sesuatu yang sebenarnya. Penting bagi kita untuk melihat lebih jauh ke dalam. Melihat dengan jeli seperti apa mereka sebenarnya. Semoga orang tua mereka di rumah dapat memberikan bimbingan dan arahan. Semoga masa remaja mereka tak rusak oleh pornografi. Tak banyak yang bisa saya lakukan sebagai guru sementara, dengan waktu yang sementara pula. Moga dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar