Cinta
tak selalu harus mendekat. Terkadang cinta justru harus menjauh. Menghindar,
berlari, menjaga jarak aman tuk tata kelola hati.
Bagi
beberapa, jauh dengannya adalah cinta. Yang justru sedikit memudar tatkala
jarak berkurang. Ia tak seistimewa di awal cerita.
Eh,
tapi tunggu dulu. Kita terlalu terburu-buru. Terlalu dini menilainya sebagai
cinta. Kita sebut saja suka. Suka? Ya, suka. Yang berawal dari sekedar kagum.
Atau ekstremnya tanpa sebab. Hanya karena sebuah chemistry. Chemistry yang jadi
mistery.
***
Kini
saban hari kau penuhi berandaku dengan share all about love. Semua tentang
cinta dan seluruh komponennya. Rindu, pengorbanan, tanggung jawab, kerelaan, dan
jenjang pernikahan.
Ada
apa denganmu, kini bukan hanya judul sebuah lagu. Pertanyaan yang belum berani
kulontarkan, tiada juga kau berikan keterangan. Aku penuh dengan pertanyaan,
apakah engkau dalam kegalauan.
Kau
berubah kawan. Kau berubah...
Tapi
sungguh hati ini berucap syukur. Jika memang ini yang terbaik, semoga
menjalaninya dengan penuh keridhaan. Semoga kau bahagia.
***
Siapa
yang tak ikut bahagia, melihat pasangan berumur masih dengan manisnya saling
menggoda dan bercanda. Kesetiaan mereka telah teruji. Kebahagiaan bukan hanya
tentang cinta di awal biduk rumah tangga. Kebahagiaan itu adalah paket cinta,
sayang, marah, cemburu, lelah, jenuh, sakit, derita, dan berjuta rasa yang
hanya dirasakan oleh cinta yang terikat.
“Coba
lihat ini.” Mbah Kung (kakek) meperlihatkanku sebuah foto walpaper.
Aku
mengamatinya dengan seksama. “Siapa ini, Mbah?”. Kutajamkan mataku. “Oalahhh,
ada-ada aja.” Aku tertawa. “kok gak lihat kamera, Mbah?”
“Hehe.
Lha iya, lha wong difoto diam-diam. Nyuri-nyuri.”
Kulirik
mbah putri yang kebingungan melihat tingkah kami berdua. Dan kami lanjut
tertawa.
Aku
bahagia melihat kebahagiaan ini. Walau kini ia tlah tiada
***
Hari
itu mendung tebal menyelimuti kota tepian, Samarinda. Rasa lapar memaksaku tuk
memesan satu porsi lalapan makan di tempat. Kupikir awan hitam tebal masih
ingin menggantung. Nyatanya tidak. Beberapa menit kemudian hujan turun dengan
derasnya. Ah, makanan sudah terlanjur kupesan.
Habis
sudah satu porsi. Tapi hujan tak kunjung reda. Sebentar lagi masuk waktu shalat
magrib. Aku belum dapat pulang. Sementara agenda menunggu tapat pukul 19.00. So???
Hujan
semakin deras saja. Tak ada jas hujan. Jalanan Pramuka mulai banjir seperti
biasa. Oh, tidak.
___
Seluruh
tubuhku basah kuyup tanpa ampun. Tapi agenda harus tetap berjalan. Jadilah kami
hanya bertiga saat itu. Lalu tiba-tiba...
BLUP!!!
Mati lampu.
“Wah,
candlelight dinner kita Mbak.” Kawanku menyalakan lilin.
Dan
agenda pun tetap berlangsung.
***
“Ye...,
Umi hp baru...” ummi menggodaku. Mengotak atik hp dengan sedikit kebingungan. “Layar sentuh loh...”
lanjutnya lagi.
“Touch
screen gitu na, Mi.” Adik perempuanku menyahut.
“Iya,
iya. Tuc scren....”
Aku
senyum-senyum saja.
“Kenapa,
mau tukar kah? Kalau mau ya... boleh....” lagi, ummi menggodaku.
“Eh,
eh. Jangan lah.... Kan dulu sudah,
Mi....” adik perempuanku
cemberut.
Aku
melirik pada ummi. “Emang boleh?”
Ummi
mengangguk.
“Wah..., asyik!!! Hmmmm, tapi gak usah ah,
untuk ummi aja.”
“Weee..,
ya udah kalau nggak mau. Ummi juga senang. Hehe.
Ummi,
seseorang yang paling mengerti aku. Sesekali tempe kecap jadi paket istimewa,
atau sekotak sambal pecel, dibarengi sebotol madu, kecap, dan saus botol.
Katanya untuk anak tercinta biar gak kelaparan dan sakit maag.
Love
u...
***
All
about love
Cinta
bukan sekedar roman picisan antara dua insan. Tak sesempit makna cinta di film,
drama-drama korea, cinta remaja ala indonesia, atau sentuhan fisik ala amerika.
Cinta adalah cinta, yang miliki berjuta rasa. Senang, sedih, susah, bahagia,
sengsara, menderita, bosan, marah, cemburu agar cinta tak jadi hambar. Cinta
harus ditempa. Cinta diuji kesetiannya. Cinta adalah cinta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar