Time Limit



Mengapa pintu ini baru terbuka setelah aku menempuh jalan dari pintu lain yang berbeda? Memang cukup bagiku untuk kembali dan memulai langkah baru. Tapi, sungguh ku tak ingin ada sebuah sesal yang pada akhirnya mengantui sepanjang perjalanan itu nanti. Mereka bilang, kita baru akan merasakan betapa berharganya sesuatu justru setelah kita kehilangannya. Untuk urusan ini aku percaya, mungkin takut lebih tepatnya. Dalam beberapa hal lain tentu aku tidak percaya.
            Tak ada salah dan dosa jika kita iri pada ketaqwaan orang lain. Bukankah itu sebuah lecutan tuk menjadi lebih baik?
            Perjalanan panjang penuh onak dan duri bukan alasan menyalahkan takdir dan berharap sang waktu berpihak, mengizinkan kita kembali, menjalani hidup yang berbeda. Mencoba opsi-opsi lain. Aku tahu itu bukan wewenangnya. Allah, telah menggariskan. Tentu dengan campur tangan kita pula pada beberapa area yang dapat kita jangkau.
Yah, aku sadar, hidup ini tidak seperti serial Doraemon. Menjadi sang Nobita yang dengan mudahnya memutar balik waktu. Entah apakah suatu hari nanti benar-benar akan terwujud. Bisa dibilang itu impian semua orang ya? Lihat saja, banyaknya tayangan khayalan manusia akan mesin waktu. Haha, setidaknya itu sedikit menyenangkan hati, menghibur. Seandainya, seandainya, seandainya, huft!!! Cukuplah kita berangan.
Hidup ini singkat. Seberapa banyak kita sadar akan hal itu. Waktu kita terbatas. Kekekalan kita adalah nanti, setelah mati. Lihat! Kehidupan yang singkat ini akan dipertanggungjawabkan dengan keabadian surga atau pun neraka. Sudah cukup merasa beriman? Kalau ya, coba periksa hati kita. Barangkali ada yang bengkak di sana.
Jangan pernah merasa cukup beriman. Aih, betapa pandainya setan mengelabui manusia. Kita merasa tinggi? Waspadalah!! Justru iman kita patut dipertanyakan. Pantaskah kita sementara hanya Allah yang tahu apakah selama ini amal perbuatan kita diterima atau tidak. Atau malah kita menumpuk dosa.
Life is choice. Semua tahu itu. Hidup adalah pilihan. Setiap pilihan akan ada resikonya.
Wanita dewasa, bukan dilihat dari pengalaman hidup dan cintanya. Wanita dewasa, bukan karena tak lagi dibiayai orang tua. Wanita dewasa, bukna karena tinggi batang usianya. Itu dewasa versi manusia. Wanita dewasa, ia bijaksana, melihat masalah dari sudut pandang agama. Menyelesaikannya pula dengan hukum yang pasti kebenarannya, hukum syara’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar